PosKupang/
Home »

Video

Berita Timor Rote Sabu

VIDEO--Ribuan Umat Katolik Perbatasan RI-RDTL Paroki Atapupu Ikut Prosesi Perarakan Nai Feto Lalean

Umat katolik di perbatasan negara RI-RDTL khususnya Paroki Atapupu memiliki salah satu tradisi unik.

Laporan Wartawan Pos-Kupang, Edy Bau

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA--Umat katolik di perbatasan negara RI-RDTL khususnya Paroki Atapupu memiliki salah satu tradisi unik.

Meski baru memasuki tahun kelima, tradisi yang dikenal dengan sebutan prosesi perarakan Nai Feto Lalean (Bunda Maria Ratu Surga) ini cukup menarik perhatian.

Tahun 2017 ini, prosesi sudah dimulai sejak Selasa (25/7/2017) dari Gereja Paroki Atapupu menuju Stasi Silawan dan akan berakhir pada tanggal 31 Juli mendatang.

Ribuan Umat Katolik Perbatasan RI-RDTL Paroki Atapupu-Belu Ikut Prosesi Perarakan Nai Feto Lalean
Ribuan Umat Katolik Perbatasan RI-RDTL Paroki Atapupu-Belu Ikut Prosesi Perarakan Nai Feto Lalean (POS KUPANG/EDY BAU)

Hari ini, Rabu (26/7/2017) prosesi perarakan dimulai dari Kapela Stasi Silawan menuju stasi Seroja.

Disaksikan Pos Kupang, ribuan umat tua-muda dan anak-anak yang berbaju putih serta berkain adat memenuhi jalan mengarak salib suci, arca Bunda Maria dan kitab suci.

Ribuan Umat Katolik Perbatasan RI-RDTL Paroki Atapupu-Belu Ikut Prosesi Perarakan Nai Feto Lalean
Ribuan Umat Katolik Perbatasan RI-RDTL Paroki Atapupu-Belu Ikut Prosesi Perarakan Nai Feto Lalean (POS KUPANG/EDY BAU)

Setelah diarak dengan berjalan kaki dalam jarak yang telah ditentukan, umat dan panitia yang telah disiapkan melakukan perarakan dengan menumpang kendaraan. Tampak TNI dan Polri ikut mengawal prosesi perarakan ini.

Menurut Pastor di Paroki Atapupu, Romo Yoris Samuel Giri, Pr, prosesi ini dimulai sejak tahun 2012 dengan tujuan prosesi ini dimaksudnya agar umat bisa kembali mengenal misi awal gereja katolik di Timor Barat. Bahwa Misi Katolik masuk ke Timor Barat itu mulai dari stasi Atapupu pada tahun 1800an oleh imam-imam dominikan dan Jesuit.

"Sejak saat itu kita kenal tentang Yesus Kristus, kita kenal keselamatan dan kenal tentang gereja. Dan Prosesi ini dibuat sejak tahun 2012 untuk tidak hanya mengenang saja tapi terus menerus sebagai pembangkitan iman, hidup baru, semangat baru, baik dalam karya pelayanan para imam maupun iman umat," jelasnya. (*)

Penulis: Frederikus Riyanto Bau
Editor: Rosalina Woso
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help