Segi Sosiologis Sastra NTT, Inilah Penjelasannya

Bidang kajian monodisiplin terdiri atas teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Bidang kajian multidisiplin

Segi Sosiologis Sastra NTT, Inilah Penjelasannya
ilustrasi

Pada beberapa tahun terakhir ini sastra NTT menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Lewat buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012, halaman 29-34), saya mencatat kebangkitan sastra NTT terhitung sejak tahun 2011 dengan sejumlah indikator pada (1) penerbitan buku sastra karya para sastrawan NTT, (2) publikasi artikel opini sastra dan esai/kritik sastra dalam berbagai media cetak NTT, (3) publikasi cerpen dan puisi pada harian Pos Kupang.

Belakangan, pertumbuhan komunitas sastra di berbagai tempat dan lembaga pendidikan di NTT, menunjukkan adanya kegairahan bersastra yang cukup bagus di Provinsi NTT.

Dalam kaitan dengan perkembangan sastra NTT yang menggairahkan itu, maka menurut hemat saya, sudah tiba waktunya untuk melakukan kajian-kajian secara sosiologis sastra NTT. Mendorong dilakukannya kajian sosiologis sastra NTT inilah yang mau disasar dalam tulisan ini. Kajian sosiologis sastra NTT tentu bertolak dari tiga komponen utama kajian, yakni (1) kajian terhadap karya sastra (dengan berbagai genre-nya), (2) kajian terhadap pengarang sastra (sastrawan), dan (3) kajian terhadap pembaca sastra. Jadi, kajian sosiologi sastranya meliputi kajian karya sastra, pengarang sastra, dan pembaca sastra.

Pertama, kajian sosiologi sastra terhadap karya sastra. Yang perlu dikaji di sini, antara lain (1) berapa jumlah karya sastra NTT yang diterbitkan sejak awal mula dirintis sampai dengan saat ini, (2) berapa jumlah karya sastra NTT yang diterbitkan setiap tahun untuk masing-masing genre sastra, (3) berapa jumlah karya sastra yang laku terjual, (4) di mana saja penyebaran karya sastra NTT itu: dunia pendidikan, komunitas sastra, atau masyarakat umum, (5) apakah karya sastra NTT berfungsi dan berperan dalam dunia pendidikan, (6) apakah karya sastra NTT mempengaruhi kebijakan publik pemerintahan di NTT, (7) apakah karya sastra NTT mampu menjadi sarana diplomasi budaya NTT, (8) sejauh mana pengetahuan masyarakat dan para pelajar NTT terhadap karya sastra NTT dan sastrawan NTT. Dan masih banyak pertanyaan lain kalau dilanjutkan.

Kedua, kajian sosiologi sastra terhadap pengarang sastra. Yang perlu dikaji di sini, antara lain (1) berapa jumlah sastrawan NTT sejak awal mula dirintis sampai dengan saat ini, (2) siapa-siapa saja sastrawan NTT yang terdiri atas: penyair, novelis, cerpenis, dramawan, dan kritikus sastra, (3) apa saja latar belakang pendidikan dan pekerjaan para sastrawan NTT, (4) berapa jumlah pengarang laki-laki dan perempuan dalam sastra NTT, (5) apakah menulis karya sastra sebagai profesi atau sebagai hobi, (6) siapa saja sastrawan NTT yang dikenal di panggung sastra nasional Indonesia. Dan masih banyak pertanyaan yang lain.

Ketiga, kajian sosiologi sastra terhadap pembaca sastra. Yang perlu dikaji di sini, antara lain (1) kelompok masyarakat mana saja pembaca karya sastra NTT, (2) bagaimana penyebaran karya sastra di Provinsi NTT, (3) sejauh mana minat para siswa dan mahasiswa membaca karya sastra NTT, (4) seberapa banyak masyarakat NTT mengenal karya sastra dan sastrawan NTT, (5) apakah birokrasi pemerintahan di NTT membaca karya sastra, (6) pembaca karya sastra NTT lebih banyak perempuan atau pria, (7) apakah toko buku di NTT berperan dalam menyebarluaskan karya sastra NTT. Dan masih banyak pertanyaan yang lain.

Kepada siapa dan lembaga mana yang diharapkan melakukan kajian sosiologi sastra NTT? Harapan pertama dan utama tentu ditujukan kepada para akademisi di perguruan tinggi, baik para dosen maupun mahasiswa, baik perguruan tinggi di NTT maupun dari luar NTT, baik program studi bahasa dan sastra Indonesia maupun program studi sosiologi. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved