PosKupang/

Segi Sosiologis Sastra NTT, Inilah Penjelasannya

Bidang kajian monodisiplin terdiri atas teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Bidang kajian multidisiplin

Segi Sosiologis Sastra NTT, Inilah Penjelasannya
ilustrasi

Oleh: Yohanes Sehandi
Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende

POS KUPANG.COM -- Secara umum disiplin ilmu sastra terdiri atas dua bidang kajian, yakni bidang kajian yang bersifat monodisiplin dan yang bersifat multidisiplin. Monodisiplin fokus pada satu bidang kajian, sebaliknya multidisiplin gabungan beberapa bidang kajian.

Bidang kajian monodisiplin terdiri atas teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Bidang kajian multidisiplin, sampai sejauh ini, terdiri atas sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra. Pada jurusan atau program studi bahasa/sastra atau pendidikan bahasa/sastra Indonesia di perguruan tinggi Indonesia, enam bidang kajian sastra ini dibahas dalam mata kuliah sendiri-sendiri yang wajib diikuti para mahasiswa.

Salah satu bidang kajian yang bersifat multidisiplin adalah sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan gabungan kajian sosiologi (ilmu sosial) dan kajian sastra (ilmu sastra). Kalau dirumuskan secara sederhana, sosiologi sastra adalah bidang kajian ilmu sastra yang dikaitkan dengan pengaruh lingkungan sosial kemasyarakatannya.

Menurut pakar multidisiplin sastra Nyoman Kutha Ratna (2009), dalam sosiologi sastra, kajian sastra harus dominan dibandingkan dengan sosiologi karena karya sastralah yang menjadi objek kajian.

Dibandingkan dengan sosiologi agama, sosiologi pendidikan, sosiologi politik, dan lain-lain, sosiologi sastra termasuk bidang kajian yang perkembangannya lamban. Bidang kajian sosiologi sastra baru dimulai pada akhir abad ke-18 yang ditandai terbitnya buku sosiologi sastra berjudul The Sociology of Art and Literature (1970) karya bersama Milton C. Albert, James H. Barnett, dan Mason Griff. Di Indonesia kajian sosiologi sastra diawali dengan terbitnya buku Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas (1978) karya Sapardi Djoko Damono.

Penulis buku sosiologi sastra yang lain adalah Jakob Sumardjo, Umar Junus, Maman S. Mahayana, dan Nyoman Kutha Ratna. Belakangan ini, Nyoman Kutha Ratna adalah ilmuwan multidisiplin sastra yang sangat produktif menerbitkan buku-buku berkaitan dengan kajian sosiologi sastra, antara lain berjudul Paradigma Sosiologi Sastra (2003), Sastra dan Cultural Studies (2006), Estetika Sastra dan Budaya (2007), Postkolonialisme Indonesia, Relevansi Sastra (2008), dan Antropologi Sastra (2011).

Kajian sosiologi sastra ini penting dilakukan bertolak dari dalil bahwa karya sastra diciptakan seorang pengarang (sastrawan) karena pengarang itu sendiri merupakan a salient being, yakni makhluk yang mengalami dan menjadi bagian dalam kehidupan empirik sosial kemasyarakatannya.

Dengan demikian, sastra dibentuk oleh masyarakatnya. Sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai-nilai dalam masyarakatnya. Dalil ini munculkan pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakat lingkungannya. Sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara karya sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya. Konsep dasar sosiologi sastra seperti ini sebetulnya sudah dikenal sejak zaman Plato (424-347) dan Aristoteles (384-322) dengan istilah mimesis yang membahas hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai cermin.

Dengan penjelasan singkat tentang sosiologi sastra di atas, maka kita dapat melihat relevansi dan pentingnya kajian sosiologi sastra dalam sastra NTT (Nusa Tenggara Timur). Sastra NTT yang dimaksudkan di sini adalah sastra Indonesia yang bertumbuh dan berkembang di Provinsi NTT dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa sastra NTT telah dirintis oleh orang-orang NTT yang berkiprah di panggung sastra, seperti Gerson Poyk, Dami N. Toda, Julius Sijaranamual, Umbu Landu Paranggi, John Dami Mukese, AGH Netti, Maria Matildis Banda, Mezra E Pellondou dan lain-lain.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help