PosKupang/

Penduduk Berbalik, Keluarga ISIS di Irak Terancam dan Dihantui Stigma

Suami anaknya ini pun telah mati setahun lalu sewaktu sang putri mengandung anak pertamanya. Si anak terbaring di lantai penampungan

Penduduk Berbalik,  Keluarga ISIS di Irak Terancam dan Dihantui Stigma
(REUTERS/Andres Martinez Casares)
Sebuah kendaraan pasukan Irak berkendara di sepanjang jalan saat warga berjalan meninggalkan rumah mereka di Mosul, Irak, Selasa (4/4/2017).

POS KUPANG.COM - Anak perempuan Umm Hamoudi, yang bersuamikan seorang militan ISIS, baru berusia 14 tahun ketika ayahnya menikahkan dia kepada seorang militan ISIS.

Suami anaknya ini pun telah mati setahun lalu sewaktu sang putri mengandung anak pertamanya. Si anak terbaring di lantai penampungan dengan diselimuti stigma yang akan menghantui sepanjang hidupnya.

Umm Suhaib (32) terakhir kali mendengar kabar suaminya dua bulan silam.

"Dia pasti sudah mati," kata dia dalam emosi yang datar.

Dia telah diminta untuk meninggalkan suaminya saat sang suami bergabung dengan ISIS setahun lalu setelah ISIS menduduki Mosul. Dia menolak ancaman itu karena mempertimbangkan nasib empat anaknya.

Suaminya, seorang muslim yang saleh, tergoda oleh pemikiran khilafah moderen yang menawarkan posisi insinyur dalam proyek pembangunan ISIS. Si suami, kata Umm Suhaib, mengaku menyesal telah bergabung dengan ISIS, tetapi penyesalan itu sudah sangat terlambat.

"Dia menyianyiakan hidupnya dan membuat kami tercampak. Kini kami menjadi pihak yang kalah," kata Umm Suhaib.

Seperti wanita-wanita lain yang suami atau saudara-saudara laki-lakinya bergabung dengan ISIS, Umm Suhaib mengaku tidak punya kuasa menghentikan niat suaminya bergabung dengan ISIS.

"Saya tak punya wewenang terhadap mereka," kata perempuan berusia 50 tahun bernama Fatima Shihab Ahmed menyangkut dua adiknya yang bergabung dengan ISIS.

Fatima yakin salah satu dari dua adiknya itu masih hidup di kota yang masih diduduki ISIS, Tel Afar, yang sedang menjadi target operasi pasukan Irak berikutnya.

Fatima sendiri dicurigai tetangga-tetannganya sebagai anggota polisi moral ISIS, Hisba, yang menghukum wanita-wanita yang tak berpakaian sesuasi aturan ISIS. Fatima membantah tudingan ini.

Sementara itu Umm Yousif mengaku tidak punya satu pun kerabat lekakinya yang bergabung dengan ISIS.

Ironisnya dia dipisahkan dari suaminya yang terluka sewaktu dalam pengungsian ke distrik Midan pekan lalu. Dia yakin suaminya itu dibawa ke sebuah rumah sakit setelah diperiksa pasukan keamanan Irak, karena tuduhan punya kaitan dengan ISIS.

"Mungkin dia sudah mati. Mungkin juga masih hidup," kata dia sembari menghiba untuk diizinkan keluar dari kamp itu demi melihat sang suami. "Mereka bilang 'kalian semua Daesh (ISIS', padahal bukan." *)

Editor: Ferry_Ndoen
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help