PosKupang/

Kehebohan yang Tercipta pada Hari Pertama Masuk Sekolah

Ada sebagian yang masih dijaga orangtua. Biasanya yang baru masuk PAUD atau Taman Kanak-kanak (TK) atau peralihan

Kehebohan yang Tercipta pada Hari Pertama Masuk Sekolah
POS KUPANG/EGY MOA
ilustrasi 

POS KUPANG.COM -- Terhitung sejak hari ini, Senin (17/7/2017), tahun ajaran 2017/2018 dimulai. Para siswa dan guru menjalani aktivitas belajar mengajar (KBM) sampai setahun ke depan. Bagi siswa baru, inilah hari pertama bagi mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang baru.

Ada sebagian yang masih dijaga orangtua. Biasanya yang baru masuk PAUD atau Taman Kanak-kanak (TK) atau peralihan dari TK ke sekolah dasar (SD). Bila dulu memakai seragam berwarna merah dan putih, kini pakai seragam putih dan biru. Bila sebelumnya memakai putih biru, hari ini dia harus pakai seragam putih dan abu-abu. Teman baru, guru baru, kelas baru, suasana serba baru. Tak terkecuali bagi siswa lama yang baru saja naik kelas.

Dari sisi tradisi pendidikan di Indonesia, inilah awal melangkah bagi anak-anak generasi penerus bangsa. Bagaimana kelanjutan nasib seorang siswa, hari ini ikut menjadi penentu. Apakah dia akan meraih kesuksesan ataukah justru tersandung karena salah memilih sekolah.

Menjelang tahun ajaran baru 2017, khusus di tingkat SMA/SMK, masih terjadi polemik soal penerimaan siswa baru. Gejolak itu mencuat di Kota Kupang terkait pungutan di sekolah negeri dan alasan lainnya.

Mengatasnamakan regulasi zona, para orangtua tetap ngotot anaknya masuk di sekolah pilihannya. Meski tetap ditolak, protes dan aksi terjadi hingga saat ini. Pengalihan pengelolaan SMA/SMK dari kabupaten/kota ke provinsi, mungkin menjadi salah satu penyebab.

Sistem baru yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi NTT terkait regulasi penerimaan siswa baru, ternyata belum sepenuhnya dipahami masyarakat luas. Khusus untuk jalur khusus, ada sekolah yang masih menganggap ini menjadi kewenangan penuh mereka untuk menentukan siapa siswa yang bakal direkrutnya.

Hal ini yang kemudian mengundang protes dari sejumlah orangtua siswa. Terutama orangtua yang merasa masih berada di wilayah atau zona sekolah, mereka tetap ngotot. Kondisi ini diperparah lagi dengan sikap pihak sekolah yang seolah-olah cuci tangan. Menghindari protes orangtua dan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.

Memasuki tahun ajaran baru akan banyak pembenahan yang mesti dilakukan. Semoga saja protes dari orangtua karena anaknya belum diakomodir di sekolah tertentu bisa teratasi dengan baik. Regulasi tentu dibuat untuk memudahkan masyarakat mengakses pendidikan yang menjadi haknya. Untuk itu, dinas pendidikan sudah semestinya turun tangan menyelesaikan polemik ini agar para siswa bisa menapaki hari pertama bersekolah dengan nyaman. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help