PosKupang/

Pemerintah Harus Serius Operasikan RSJ Naimata Kupang

Bayangkan saja, rumah sakit yang menghabiskan anggaran puluhan miliar rupiah itu hanya diisi 7 pasien.

Pemerintah Harus Serius Operasikan RSJ Naimata Kupang
PK/MAXI MARHO
Inilah kondisi terkini dari RSJ Naimata. Gambar diabadikan, Selasa (4/7/2017) 

POS KUPANG.COM - Minimnya pasien Rumah Sakit Jiwa Naimata Kupang sangat bertolak belakang dengan kondisi pasien jiwa di ruang bangsal jiwa RSU Prof DR WZ Johannes Kupang. Padahal dua RS ini sama-sama milik pemerintah.

Sejak soft opening pada 3 Juni 2017 silam, rumah sakit ini sangat lenggang. Belum ada psien yang memanfaatkan jasa rumah sakit milik Pemprov NTT ini. Padahal, kondisi berbeda 180 derajat terjadi pada pasien jiwa di RSU Prof DR WZ Johannes Kupang. Di rumah sakit ini pasien membludak, sehingga tak bisa ditambung di ruang bangsal jiwa.

Timbul pertanyaan, kenapa sampai terjadi seperti ini? Padahal kedua rumah sakit ini milik pemerintah.

Bayangkan saja, rumah sakit yang menghabiskan anggaran puluhan miliar rupiah itu hanya diisi 7 pasien. Padahal kita kerap mendapati orang gila berkeliaran di jalanan. Bahkan, catatan menyebutkan di Kota Kupang terdapat 130 penderita gangguan jiwa. Ini masih di Kota Kupang saja, bagaimana dengan di daerah-daerah, baik di Pulau Timor, Flores, Sumba, dan lainnya?

Adalah 'gila' jika rumah sakit yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 1,5 hektar dan menghabiskan anggaran lebih dari Rp 13 miliar itu hanya diisi oleh tujuh orang pasien penderita gangguan jiwa.

Lantas kemanakah larinya pasien-pasien penderita disabilitas psikososial ini? Di RSU
DR WZ Johannes saat ini pasien jiwa tak mampu ditampung di ruang bangsal jiwa yang berkapasitas 10 orang tersebut. Terpaksa mereka berdesakan untuk mendapatkan pelayanan. Pertanyaannya, kenapa tidak dikirim ke RSJ Naimata Kupang. Padahal, jarak antara RSU DR WZ Johannes ke RSJ Naimata tak lebih 10 menit.

Koordinasi yang buruk inilah yang harus menjadi perhatian para pemimpin di NTT ini. Sehingga persoalan-persoalan birokrasi yang sangat merugikan dapat dipangkas dan disederhanakan sedemikian rupa. Sehingga, tidak akan ada lagi pelayanan yang menumpuk sementara di sisi lain justru kosong melompong.

Perhatian serius ini pula harus diberikan terhadap daerah-daerah lain. Sehingga, tak adalagi orang-orang gila yang berkeliaran di jalanan. Bahkan sampai mengancam jiwa, seperti penikaman terahdap 7 anak Sekoalh Dasar (SD) di Kabupaten Sabu Raijua, pada Desember 2016 silam

Jika koordinasi dan perhatian pemerintah benar-benar serius terhadap para penderita gangguan jiwa ini, tak akan ada lagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ini berkeliaran di jalanan, seperti yang dibuktikan oleh peran Maria Aloysima S Sinour, warga Kabupaten Ende, dan rekan-rekannya di Pater Avent Saur (SVD). (*)

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help