PosKupang/

Inilah Litani Tour de Flores

Dua hal yang disinggung Menteri Pariwisata. Pertama, TdF merupakan event yang memiliki nilai publikasi media atau media value

Inilah Litani Tour de Flores
ANTARA
Peserta Tour de Flores 2016 saat meninggalkan Kota Larantuka 

Oleh: Isidorus Lilijawa
Tenaga Ahli DPR RI

POS KUPANG.COM - Secara resmi, Menteri Pariwisata Arief Yahya meluncurkan event olahraga pariwisata Tour de Flores (TdF) 2017 di Balairung Soesilo Soedarman, Kemenpar, Rabu (5/7/2017). Ajang balap sepeda edisi kedua ini bakal dihelat pada 14-19 Juli 2017 mendatang.

Dua hal yang disinggung Menteri Pariwisata. Pertama, TdF merupakan event yang memiliki nilai publikasi media atau media value yang cukup tinggi dan menjadi trending topik. Kedua, sang Menteri mengatakan dampak langsung dari penyengggaraan balap sepeda internasional ini kepada rakyat memang sedikit sulit dijelaskan. Namun, publikasi yang besar terhadap acara ini akan bermanfaat bagi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Flores.

Mengulang Litani
Perhelatan TdF edisi kedua kali ini tidak lepas dari aneka litani yang namanya litani optimisme, litani pesimisme, litani gugatan, litani harapan. Sejak awal, TdF adalah peluang sekaligus tantangan; gugatan pun harapan. Publik NTT masih ingat dengan jelas bagaimana reaksi publik tatkala digelar TdF edisi perdana.

Agenda yang diawal disebut-sebut sebagai agenda nasional malah berujung pada pengumpulan dana sumbangan dari setiap daerah dengan membebankan APBD. Lebih repot lagi, pelaksanaan APBD di setiap daerah sudah setengah jalan. Tidak heran kala itu, saya mencatat, Bupati Marianus Sae meradang dan tidak sudi memberi sumbangan untuk TdF dengan alih-alih lebih baik dengan dana yang ada membangun sesuatu yang langsung dirasakan rakyatnya.

Dari ruang media sosial, saya membaca pengakuan Chairman EO TDF, Primus Dorimulu yang berujar bahwa TdF edisi perdana meninggalkan utang dan karena itu pihak EO mesti mengeluarkan biaya pribadi (nombok) untuk melunasi utang-utang tersebut. Secara finansial EO mengalami kerugian, tetapi spirit untuk meneruskan agenda ini di edisi berikutnya terus terlecuti hingga terjadilah edisi kedua kali ini yang digelar selama enam hari, menempuh jarak sepanjang 721,6 kilometer yang terbagi menjadi enam etape,

Di sisi lain, TdF justru melahirkan litani optimisme seorang Menteri Pariwisata. Menurutnya, promosi adalah investasi. Adalah keliru jika ada pihak yang berpandangan bahwa promosi adalah kegiatan mubazir, hanya membuang-buang uang, tenaga, dan waktu. Promosi adalah investasi, sedang parwisata adalah komoditas.

Sebagai komoditas, pariwisata harus dipromosi. Tanpa promosi, seindah apa pun suatu daerah, wisatawan takkan datang. Pemerintah mendukung TdF karena sport tourism seperti itu merupakan ajang promosi. Lewat event besar, sebuah destinasi dipromosi ke seluruh penjuru dunia. Media massa, dalam dan luar negeri, datang meliput dan mewartakan ke berbagai negara. Di balik optimisme ini, sang Menteri juga masih sulit menjelaskan dampak langsung dari ajang balap sepeda ini.

Litani pesimisme pun mengalir. Ada pihak yang justru mempertanyakan misi TdF dan dampaknya bagi masyarakat. Jika itu program nasional, mengapa tidak dibebankan saja ke APBN tanpa mengganggu APBD? Lalu, apakah dampak langsung dari lomba balap sepeda ini yang melewati jalur nasional tanpa menyentuh sisi gelap, sisi kurang, sisi eksotik, sisi lemah NTT yang justru tidak tampak kasat mata di pinggir-pinggir jalanan yang dilewati itu?

Sebagian pihak, Pemda dan sebagian masyarakat masih ragu dan mempertanyakan penyelenggaraan TdF. TdF edisi pertama dinilai memboroskan anggaran senilai Rp 32 milliar di tengah kebutuhan di sektor lain yang lebih mendesak seperti pendidikan dan kesehatan. Apalagi tidak ada yang menjamin hasilnya akan positif, jika persoalan politik di tingkat lokal masih berurat akar seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjadi biang dari kegagalan setiap upaya pembangunan selama ini.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help