Gerakan Literasi dan Pembentukan Karakter, Beginilah Seharusnya Terjadi di NTT

Sejauh ini, Pemerintah Provinsi NTT belum mengelaborasi gerakan literasi yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan K

Gerakan Literasi dan Pembentukan Karakter, Beginilah Seharusnya Terjadi di NTT
Shutterstock
Ilustrasi 

Badan Pusat Statistik (BPS, 2006) menunjukkan data yang mengejutkan. Sebesar 85,9 persen masyarakat nonton televisi daripada mendengar radio 40,3 persen, dan baca koran 23,5 persen. Waktu nonton pun mencengangkan. Anak Indonesia habiskan waktu 300 menit per hari untuk nonton televisi; dibandingkan anak-anak di Australia 150 menit, Amerika 100 menit, dan Kanada 60 menit.

Rilis BPS pada 2012 tidak jauh berubah. Sebanyak 91,58 persen penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas lebih suka nonton televisi. Yang gemar baca buku, surat kabar dan majalah cuma 17,58 persen. Tahun 2015, Perpustakaan Nasional dalam rilis hasil kajiannya, menempatkan minat baca masyarakat pada angka 25,1, kategori rencah, [http://regional.kompas.com/read/2016/04/28]

Literasi, Bahasa, dan Karakter
Kendati sudah mengalami perluasan makna, namun secara sederhana dan mendasar, literasi terkait keaksaraan, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Gerakan literasi, karena itu, menyasar pada gerakan menumbuhkan minat membaca dan menulis bagi anak-anak kita, dengan harapan ada proses pembiasaan yang terus menerus, sehingga terbentuk budaya membaca dan menulis.

Budaya membaca dan menulis ini akan membentuk pola berbahasa, yang menjadi basis pola berpikir teratur dan terstruktur, yang menggaransi terbentuknya jati diri -sikap dan perilaku -yang berkarakter. Bahasa diperoleh dari interasksi kita dengan sesama manusia sejak kita kecil, bahkan secara metafisik, sejak dalam kandungan ibu.

Bertumbuh dan berkembang seiring perjalanan waktu, memungkinkan seorang anak manusia memahami dan menggunakan bahasa; dimulai dengan bahasa ibu, dan kemudian berkembang menjadi bahasa nasional. Namun, untuk memiliki pola berbahasa yang baik dan benar, maka kemampuan berbahasa itu dikembangkan melalui latihan, mulai dari mengenal huruf, kata, kalimat dan merangkai kalimat menjadi pengertian. Latihan membaca dan menulis, keaksaraan.

Setelah itu, dibiasakan membaca dan menulis terus-menerus, sehingga membentuk pola berbahasa yang bagus. Pola berbahasa inilah menjadi basis berpikir seseorang, membentuk pola berpikir seseorang. Karena setiap manusia berpikir selalu dalam bahasa. Semakin bagus kemampuan berbahasanya, makin bagus kemampuan berpikirnya. Semakin teratur pola berbahasa, makin teratur pula pola dan struktur berpikir seseorang.

Filosof Martin Heidegger mengatakan bahasa adalah `rumah sang ada'. Kita memang berada dalam rumah bahasa; hidup oleh dan karena bahasa. Tanpa bahasa kita tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa berkomunikasi, tidak bisa berpikir dan bekerja untuk menghasilkan sesuatu. Bahasa, sejatinya, berperanan sangat penting. [sekedar menyitir Kitab Suci, Alkitab, `pada mulanya adalah Sabda, logos, bahasa].

Namun, bahasa yang baik dan benar, teratur dan terstruktur dibentuk melalui proses berkanjang, membaca dan menulis secara terus-menerus. Bahasa inilah yang membentuk struktur berpikir, dan secara dialektis menghasilkan kembali bahasa yang semakin baik dan teratur. Ada hubungan dialektis antara bahasa dan berpikir.

Pola bahasa dan pola pikir itu, pada saat bersamaan membentuk pola sikap dan tindakan, perilaku yang baik, yang boleh dikatakan sebagai perilaku yang berkarakter. Sehingga bahasa dan pola berpikir seseorang yang berkarakter menandai sikap dan perilakunya yang berkarakter. Sederhananya, pola berbahasa santun, halus, berkarakter itulah yang menggambarkan sekaligus membentuk pola sikap dan perilaku santun, halus, dan berkarakter pula. Inilah point strategis dari arahan gerakan literasi yang dicanangkan sebagai gerakan pembentuk budi pekerti; jiwa dan semangat gerakan literasi ini saat dicanangkan.

Karena itu, persoalan karakter bangsa -yang hari ini dipertanyakan karena meruaknya berita hoax, ujaran kebencian, dan caci maki, serta hilangnya karakter cinta Tanah Air yang tulus sejalan jiwa dan semangat Pancasila -mengantar kita pada mempersoalkan komitmen kebudayaan kita. Kembali ke akar budaya kita; akar itu mewujud dalam bahasa. Gerakan literasi diharapkan menyasar ke sana, ke inti budaya kita, ke rumah bahasa kita.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved