PosKupang/

Parade Kuda Sandelwood dan Festival Tenun Ikat Sumba

Dampaknya mulai terlihat dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun manca negara yang

Parade Kuda Sandelwood dan Festival Tenun Ikat Sumba
FOTO PATER ROBERT RAMONE,CSsR
Kuda sandelwood yang digunakan pada ajang pasola di Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. 

Oleh: Rofinus D Kaleka
ASN pada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya

POS KUPANG.COM -- Keseriusan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam membangun sektor kepariwisataan daerah NTT perlu diapresiasi. Dari waktu ke waktu upaya pengembangan, penataan dan promosi kepariwisataan terus menggeliat dan telah menampakkan wajah yang memesona dan aroma yang harum.

Dampaknya mulai terlihat dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun manca negara yang makin signifikan dari waktu ke waktu dan sudah tentu membawa imbas kemajuan dalam hal pendapatan dan kesejahteraan masyarakat NTT sendiri.

Sukses menjadi juara umum ketika mengikuti ajang kepariwisataan berskala internasional yaitu "Anugerah Pesona Indonesia 2016" lalu, makin memacu semangat Pemerintah NTT melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk terus mempromosikan potensi-potensi destinasi yang ada di daerah-daerah. Setelah menggarap promosi kepariwisataan di wilayah Timor dan Flores saat ini mulai dari tanggal 3 -12 Juli 2017, Pemerintah NTT berkolaborasi dengan keempat pemerintah kabupaten di wilayah Sumba menggelar promosi potensi unggulan daerah Sumba secara maraton dengan tajuk "Parade 1001 Kuda Sandelwood", yang diawali dari Sumba Timur, kemudian Sumba Tengah, Sumba Barat dan berakhir di Sumba Barat Daya.

Dalam rangka "Parade 1001 Kuda Sandelwood" ini, Pemerintah NTT telah mengundang Bapak Presiden RI, Ir. Joko Widodo berkenan menghadirinya. Menurut informasi, Presiden Jokowi akan hadir pada 11-12 Juli di Sumba Barat Daya. Hal ini tampak dari kesibukan pemerintah dan masyarakat Sumba Barat Daya sekarang ini yang mempersiapkan berbagai kegiatan tradisi adat-istiadat dan kebudayaan dalam rangka menyambut kedatangan Jokowi. Di antaranya adalah tarian kolosal yang merupakan gabungan dari beberapa tarian adat dan festival 2017 penenun kain ikat (pawolo).

Parade Kuda Sandelwood
Mengangkat tajuk "Parade 1.001 Kunda Sandelwood" dalam mempromosikan kepariwisataan daerah Sumba memang tepat dan menarik. Sebab kuda sandelwood adalah plasma nutfah asli yang menjadi ciri khas Sumba dan dapat menjadi ikon yang mewakili kepentingan seluruh masyarakat Sumba.

Dalam kehidupan masyarakat Sumba, kuda memiliki fungsi yang sangat penting dan majemuk. Kuda bagi masyarakat Sumba bukan terutama sebagai sumber bahan pangan (daging). Sangat jarang bagi orang Sumba untuk menyembelih kuda dan memakan dagingnya. Bahkan sampai sekarang ini, ada orang Sumba yang belum pernah menikmati rasa daging kuda.

Kuda bagi masyarakat Sumba berfungsi bukan juga sekadar sebagai kendaraan angkutan dan alat olahraga pacuan, tapi teristimewa dalam adat-istiadat perkawinan sebagai belis (mahar) yang diberikan oleh pihak orangtua laki-laki kepada pihak orangtua perempuan. Kuda juga mempunyai fungsi kebudayaan, misalnya orang-orang berpengaruh di Sumba khususnya di wilayah suku Kodi, namanya dikiaskan dengan nama kuda dan menjadi "barang (buah tangan)" bawaan pada saat kematian. Disamping itu, kuda juga memiliki fungsi religius, seperti orang yang meninggal, saat dikuburkan disertakan kuda tunggang, sebagai kendaraannya menuju alam baka. Juga kuda dan manusia dianggap mempunyai hubungan psikologis atau kejiwaan yang digambarkan dalam pitutur adat "Ndara Ole Ura".

Sejalan dengan perubahan kemajuan jaman yang membawa pengaruh terhadap tuntutan kebutuhan hidup masyarakat yang makin meningkat, maka kuda sandelwood juga mempunyai fungsi dan manfaat ekonomi sebagai komoditi peternakan yang diperdagangkan. Sejak era 1980-an sampai 1990-an penjualan kuda sandelwood ke luar Sumba sangat besar, sehingga populasi kuda sandelwood di Sumba sekarang ini sangat menurun.

Dampak dari menurunnya populasi kuda sandelwood tersebut menyebabkan harga kuda sandelwood di Sumba sekarang ini sangat mahal dari sisi kondisi daya beli masyarakat Sumba sendiri. Dampak ikutannya yang menyedihkan adalah seringkali tidak berjalan normalnya proses adat-istiadat perkawinan dan juga tradisi kematian, serta kurang ramainya penyelenggaraan Pasola.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help