Kakak Ipar Garap Adik Ipar Saat di Kebun

Korban mungkin ketika selesai melaporkan kejadian yang dia alami mendapatkan tekanan sehingga berusaha menarik kembali laporan namun demikian laporan

Kakak Ipar  Garap Adik Ipar Saat di Kebun
Kompas.com/ERICSSEN
Ilustrasi pelecehan seksual 

Laporan Wartawan Pos Kupang.com, Romualdus Pius

POS KUPANG.COM, ENDE- YB warga Mabhki, Desa Kota Gana, KecamatanMauponggo, Kabupaten Nagekeo,nekat menggarap adik iparnya sendiri saat di kebun.

Kapolres Ngada, Firman Affandi, SIk yang dikonfirmasi melalui Kapolsek Mauponggo, Ipda Edi M Tube, Sik kepada Pos Kupang, Sabtu (1/7/2017) mengatakan bahwa pada, Kamis, (22/6/2017) sekitar Pukul 18.00 Wita, telah datang ke Polsek Mauponggo seorang perempuan atas nama (YE) pekerjaan tani beralamat di Kampung Lewa Renga, Desa Lewa, Kacamatan Keo Tengah, Kabupaten Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo.

Korban melaporkan bahwa telah terjadi tindakan persetubuhan terhdap anak di bawah umur yang dilakukan oleh terlapor atas nama YB alias L yang merupakan kakak ipar korban (32) pekerjaan tani yang beralamat di Kampung Mabhki, Desa Kota Gana, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo.

Adapun kronologis kejadianya pada, Kamis (26/6/2017) sekitar pukul 09.00 Wita korban sedang berada di kebun lalu pelaku secara tiba - tiba datang dari arah belakang lalu memeluk erat korban dari arah belakang kemudian pelaku membaringkan korban dia atas batu besar ketika pelaku dan korban berada di kebun saat itu lalu pelaku membuka celana korban kemudian pelaku melakukan aksi kejahatan seksual kepada korban.

Tidak terima atas perlakuan kakak iparnya maka korban melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polsek Mauponggo.

Tindakan yang dilakukan oleh polisi ujar Ipda Edi, pasca mendapatkan laporan polisi mendatangi TKP dan mengolah TKP serta menangkap pelaku menangkap pelaku di kebun pada pukul 19.00 Wita di kebun serta dibawa ke Polsek Mauponggo.

Ipda Edi mengatakan bahwa saat pelaku ditahan di Polsek Mauponggo dalam beberapa waktu kemudian korban datang ke Polsek Mauponggo menarik laporan yang pernah dia laporkan ke polisi.

Korban mungkin ketika selesai melaporkan kejadian yang dia alami mendapatkan tekanan sehingga berusaha menarik kembali laporan namun demikian laporan yang telah masuk itu tidak bisa ditarik

Menyikapi hal itu ujar Ipda Edi polisi tetap meneruskan perkaranya karena bagaimanapun kasus itu adalah tindakan kejahatan seksual kepada anak dibawah umur sehingga tidak bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan atau damai.
Polisi ujar Ipda Edi telah membawa pelaku ke Polres Ngada untuk menjalani proses hukum selanjutnya.

Ipda Edi meminta kepada masyarakat untuk melaporkan berbagai tindakan kekerasan seksual yang dialaminnya ke polisi agar bisa diselesaikan secara hukum positif karena disinyalir banyak kejadian kekerasan seksual tidak dilaporkan namun diselesaikan secara kekeluargaan atau dengan cara adat.

Dikatakan berbeda dengan tindakan kekerasan lainnya, kasus kekerasan seksual pada anak memiliki dampak yang jauh lebih serius terhadap anak, baik secara langsung maupun jangka panjang. Kasus ini tidak hanya meninggalkan luka secara fisik. Lebih dari itu, tindak kekerasan seksual akan memberikan efek buruk pada perkembangan emosional, sosial, dan psikologi korban kekerasan.

Kondisi emosional anak akan mengalami gangguan yang ditandai dengan kondisi stres, cemas, rasa tertekan, ketakutan, dan rasa tidak aman dalam kehidupan sehari-hari akibat pengalaman buruk yang mereka alami.

Dengan demikian ujar Ipda Edi meminta kepada masyarakat agar jangan sekali-kali menyelesaikan kasus kekerasan seksual dengan cara kekeluargaan atau cara damai,ujar Ipda Edi. (rom)

Penulis: Romualdus Pius
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help