PosKupang/

Bisakah Kita Bermimpi? Catatan Penting bagi Mahasiswa Baru

Mahasiswa merupakan individu berpendidikan yang cakap secara intelektual dan berkarakter dalam kepribadiannya.

Bisakah Kita Bermimpi? Catatan Penting bagi Mahasiswa Baru
Tribunjatim.com/Ani Susanti
ilustrasi 

Oleh : Mario Djegho
Anggota UKM Penulisan Jurusan Ilmu Komunikasi Undana, Kupang

POS KUPANG.COM -- Tahun ajaran baru segera diselenggarakan oleh berbagai lembaga pendidikan. Perekrutan calon peserta didik semakin gencar dilakukan demi mewujudkan program pencerdasan kehidupan bangsa. Perguruan tinggi sebagai sebuah lembaga pendidikan pun terus merekrut mahasiswa baru dari segi kuantitas maupun kualitas demi melahirkan generasi muda yang berintelektual dan berbudi pekerti.

Mahasiswa merupakan individu berpendidikan yang cakap secara intelektual dan berkarakter dalam kepribadiannya. Artinya, mahasiswa merupakan generasi bangsa yang rasional, moderat, dan humanis. Rasional berarti skeptis dan mampu berpikir secara kritis, logis, dan sistematis. Moderat berarti memiliki idealisme dan prinsip hidup yang independen. Dan, humanis berarti memiliki kesadaran dan kepekaan sosial dalam menanggapi setiap persoalan yang ada.

Ketiga indikator tersebut merupakan bagian integral dalam identitas mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) yang tidak hanya maksimal dari segi kuantitas massa, tetapi juga berkualitas dari segi intelektual dan kepribadian.

Sebentar lagi para mahasiswa baru akan mengenyam pendidikan di ranah perguruan tinggi. Masa transisi antara pendidikan sekolah menengah dan perguruan tinggi akan segera disesuaikan dengan berbagai kegiatan perkuliahan dan ekstrakurikuler.
Rutinitas baru akan segera dilaksanakan dalam konteks pendidikan yang rasional, moderat, dan humanis. Tuntutan akademik akan menjadi acuan dalam mengukur prestasi peserta didik demi melahirkan pribadi yang berkualitas.

Selain itu, berbagai kebijakan dan metode pembelajaran yang diterapkan oleh perguruan tinggi pun perlahan melatih dan membentuk mentalitas mahasiswa agar bersikap dewasa dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, mahasiswa akan berorientasi pada konsep utama pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, yakni; berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun, satu pertanyaan eksistensial yang bisa direfleksikan adalah "Apakah kita (mahasiswa) bisa bermimpi?"

Berbicara soal mimpi maka tidak lepas dari idealisme yang dibangun dengan tujuan tertentu. Idealisme menjadi prinsip pembimbing sikap dan tindakan sehingga perlahan melepas rantai pragmatisme. Mahasiswa sebagai agen perubahan sebenarnya mampu menyusun perencanaan jangka panjang untuk masa depan yang lebih baik, adil, dan beradab. Perencanaan idealis tersebut harus berlandaskan pada dua tolak ukur utama, yakni sisi kemanusiaan dan legitimasi regulasi.

Pertama, sisi kemanusiaan. Mahasiswa (baru) adalah bagian dari dinamika sosial sehingga disebut sebagai mahkluk sosial. Sebagai mahkluk sosial, mahasiswa memiliki dua komponen utama dalam dirinya, yakni esensialitas dan eksistensialitas.

Secara esensial, mahasiswa dituntut memenuhi kewajibannya melalui pembayaran biaya perkuliahan dan berhak menuntut pelayanan optimal dari perguruan tinggi dari segi pengetahuan, sarana dan infrastruktur penunjang pengembangan diri. Sedangkan secara eksistensial, mahasiswa memiliki pola pengungkapan diri yang berbeda dalam menunjukan eksistensinya di tengah dinamika sosial. Perbedaan pola pengungkapan diri tersebut pada akhirnya melahirkan tipikal mahasiswa yang idealis, oportunis, profesional, dan rekreatif.

Mahasiswa idealis adalah tipikal mahasiswa yang memiliki prinsip hidup yang independen. Kemudian mahasiswa oportunis adalah tipikal mahasiswa yang cenderung bersembunyi dalam zona nyamannya. Lalu mahasiswa profesional adalah tipikal mahasiswa yang lebih berorientasi pada status akademis yang mendewakan nilai sebagai tolok ukur identitas diri. Dan yang terakhir adalah mahasiswa rekreatif yang cenderung memprioritaskan gaya hidup glamour sebagai pemenuhan status sosial.

Kedua, sisi legitimasi regulasi. Mahasiswa (baru) sebagai peserta didik sudah seharusnya patuh terhadap regulasi dan kebijakan perguruan tinggi dimana ia mengenyam pendidikan. Hal tersebut menjadi bagian dari pemenuhan dirinya sebagai pribadi yang esensial sehingga pola pengungkapan diri secara eksistensial pun bisa berjalan alot menuju perubahan yang diharapkan.

Sisi legitimasi regulasi menjadi komitmen bersama dalam menerima, mengakui, menjaga, dan mempertahankan status kemitraan antara perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan dan mahasiswa sebagai peserta didik secara konsisten.

Pemenuhan identitas mahasiswa (baru) dari sisi kemanusiaan dan legitimasi hukum harus sesuai dengan idealisme yang telah dibangun. Dalam konteks komunikasi pembangunan, mahasiswa harus mampu berkembang dan mengungkapkan diri dalam paradigma pembangunan manusia. Artinya, mahasiswa harus mampu menciptakan sejarahnya sendiri dan menjadi fokus utama dalam pembangunan melalui idealismenya sebagai agen perubahan. Maka dari itu, mahasiswa juga dituntut untuk membaur dengan situasi kehidupan di luar kampus secara sosial-politik, sosial-budaya, dan bahkan sosial-ekonomi. Hal itu secara tidak langsung akan membantunya dalam proses pemenuhan eksistensi demi terciptanya legitimasi regulasi yang bersifat positif-konstruktif.

Pada akhirnya, mahasiswa (baru) ditantang dengan sebuah pertanyaan eksistensial "Apakah kita (mahasiswa) bisa bermimpi?". Bermimpi untuk apa? Yah, bermimpi untuk masa depan yang lebih baik melalui dunia perguruan tinggi. Pola pengungkapan diri yang layak akan menjadi patokan masa depan yang lebih baik. Semua pilihan merupakan hak setiap mahasiswa (baru) sebagai pribadi yang esensial dan eksistensial. Apakah ingin menjadi mahasiswa idealis yang berani mendobrak segala penyimpangan di sekitar kita? Apakah ingin menjadi mahasiswa oportunis yang hanya bersembunyi di zona nyaman dan takut akan tantangan?

Apakah ingin menjadi mahasiswa professional yang lebih mementingkan status akademik sehingga tertutup dari dinamika sosial di sekitar kita? Ataukah ingin menjadi mahasiswa rekreatif yang hidup dalam nuansa glamour tanpa idealisme? Semua menjadi konsekuensi utama bagi semua mahasiswa (baru) dalam mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sudah saatnya kita menatap masa depan, menyusun strategi, dan menyiapkan rencana untuk kehidupan yang lebih baik melalui dunia perguruan tinggi. Selamat datang di dunia perguruan tinggi! Ayo kita wujudkan idealisme! *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help