PosKupang/

VIDEO: Selektif Pilih Pacar agar Tidak Kena 'Pok'

Dalam berpacaran orang muda harus bisa menyeleksi siapa yang akan menjadi pacarnya. Dalam arti secara objektif dia melihat kekuatan atau kelebihan dan

Laporan Wartawan Pos Kupang, Vemy Leo

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Dalam berpacaran orang muda harus bisa menyeleksi siapa yang akan menjadi pacarnya. Dalam arti secara objektif dia melihat kekuatan atau kelebihan dan kekurangan atau keterbatasanya.

"Kalau kekuatannya oke. Tapi kalau ada keterbatasan, maka hendaknya harus dipertimbangkan secara baik apakah keterbatasan itu bisa diterima dan bisa dirubah menjadi baik atau tidak. Jangan sampai, dengan keterbatasan itu dia akan menjadi sasaran empuk untuk kena 'pok' atau mengalami tindak kekerasan baik fisik maupun verbal," kata Psikolog Ben Labre, di Dinas PPO NTT, Rabu (21/6/2017) sore.

Ben juga mengingatkan agar dalam proses berpacaran itu setiap pihak harus saling belajar satu sama lainnya.

"Berpacaran harus atas dasar cinta dan kasih. Tapi kalau berpacaran hanya didasari oleh napsu dan insting seksual maka itu tidak baik. Oleh karena itu kepada orang muda berpacaranlah yang sehat dan selala menjaga jarak antara satu dengan lan. Kalau ulang tahun mau berciuman ya cium kering, artinya cium saja di dahinya, di ujung hidungnya atau cium saja di pipinya. Hindari ciuman basah di bibir.
Ben juga berharap setiap pasangan bisa melihat cinta sejati dan bukan. Kita harus bisa melihat manakah cinta sejati dan cinta hanya berdasarkan fisik semata. Orang yang tulus mencintai kita akan menunjukkan sikap sabar, terbuka, selalu komunikas, tidak berbohong.dan tidak ringan tangan," kata Ben.

Ben dimintai tanggapannya soal kekerasan yang terjadi selama masa pacaran.

Menurut Ben, faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam masa pacaran itu sangat kompleks.

"Dilihat dari sudut pandang psikologis, Manusia sebenarnya punya dua dorongan dalam dirinya yakni dorongan positif dan dorongan nengatif. Dan tindakan apa yang akan dilakukan itu tergantung dari dorongan apa yang lebih potensial terjadi saat itu," kata Ben.

Karenanya manusia, demikian Ben, harus bisa menemukan jadi dirinya dan harus bisa mengontrol dua dorongan itu agar yang satu terutama dorongan yang negatif itu tidak lebih besar dibandingkan dorongan yang positif.

"Dalam masa pacaran misalnya, seorang pria hendak minta sesuatu dari pasangannya, lalu pasangannya tidak kasih, maka jika saat itu dorongan negatifnya lebih dominan maka saat itu pria tadi akan pok pak memukuli si perempuan. Tapi jika muncul dorongan positif maka si pria tidak akan melakukan hal negatif para perempuan itu," kata Ben.

Halaman
12
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help