Generasi Penerus Negeriku

Generasi muda adalah para penerus yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Hal tersebut hanya

Generasi Penerus Negeriku
Net
Ilustrasi

Oleh : Andrew Donda Munthe
ASN pada BPS Kota Kupang

POS KUPANG.COM - Indonesia adalah bangsa yang besar dengan keanekaragaman suku dan budaya yang dimilikinya. Sikap dan perilaku para pahlawan yang mengorbankan harta, pikiran, tenaga, bahkan nyawanya untuk kemerdekaan negeri ini harus selalu dikenang dan diteladani.

Indonesia pun harus tetap berdiri kokoh berlandaskan empat pilar kebangsaan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, UUD1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Oleh karena itu, generasi penerus bangsa sudah sepatutnya mengisi kemerdekaan dengan berbagai karya yang positif dan juga berprestasi.

Generasi muda adalah para penerus yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Hal tersebut hanya bisa terjadi apabila generasi muda Indonesia sehat jasmani dan rohani, berpendidikan, serta memiliki karakter kepribadian yang baik. Pola pikir pada kebanyakan orang tua terhadap generasi muda adalah melihat kesuksesan anak dari nilai dalam kertas ujian atau rapor. Ketika nilainya tidak memuaskan maka orang tua kecewa dan menganggap anaknya "gagal".

Keprihatinan akan pola pikir inilah yang membuat seorang kepala sekolah dasar di Kabupaten Bantul, Yogyakarta menulis surat pribadi kepada orang tua murid tertanggal 9 Juni 2017. Surat ini tersebar luas dan menjadi viral di media sosial. Mengingatkan setiap orang tua bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik. Setiap anak pasti akan berhasil bukan hanya karena nilai yang tertera di kertas saja tapi lebih karena dukungan, kasih sayang, serta semangat yang diberikan oleh orang tua.

Surat Kepala Sekolah Dasar di Bantul kepada para orang tua tertulis: "Bersama surat ini kami sampaikan bahwa ujian anak Anda telah selesai. Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya. Tapi mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar itu, ada calon seniman yang tidak perlu mengerti Matematika. Ada calon pengusaha, yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra.

Ada calon Musisi yang nilai Kimianya tak akan berarti. Ada calon Olahragawan yang lebih mementingkan fisik daripada Fisika di sekolah. Ada calon Fotographer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang "art" berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini. Sekiranya anak Anda lulus menjadi yang teratas, hebat! Tapi bila tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka. Katakan saja

"Tidak apa-apa, itu hanya sekedar ujian." Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini. Katakan pada mereka, tidak penting berapa pun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghukum mereka. Lakukanlah ini, dan di saat itu, lihatlah anak Anda menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai rendah takkan mencabut impian dan bakat mereka. Dan mohon, berhentilah berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini."

Pola pikir diatas juga sering kali dijumpai pada orang tua murid di NTT. Bahkan persoalan pendidikan di NTT lebih kompleks. Jumlah peserta didik juga semakin berkurang seiring bertambahnya usia sekolah.

Angka Partisipasi Murni (APM) Provinsi NTT berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2015 untuk jenjang SMA/SMK/MA hanya sebesar 52,51 persen. Artinya dari seluruh penduduk yang berusia 16-18 tahun di NTT yang melanjutkan pendidikan di jenjang SMA/SMK/MA hanya separuhnya saja. Sudah bisa menulis dan membaca di jenjang sekolah dasar dirasa "cukup" bagi sebagian besar siswa dan orang tua di NTT.

Selain itu, menikah di usia muda, membantu mengurus rumah tangga atau bekerja membantu ekonomi keluarga membuat banyak anak-anak NTT yang harus mengubur mimpinya dalam-dalam untuk mengenyam pendidikan tingkat lanjut. Inilah potret buram realita pendidikan sesungguhnya yang terjadi di NTT.

Sudah saatnya orangtua di NTT maupun Indonesia secara umum menyadari akan pentingnya peran keluarga untuk membentuk karakter anak. Memberi dorongan serta semangat agar anak tetap termotivasi belajar menimba ilmu secara maksimal di sekolah hingga jenjang pendidikan tingkat lanjut. Dengan demikian gererasi gemilang untuk NTT bahkan juga Indonesia akan meneruskan estafet pembangunan negeri ini ke arah yang semakin baik lagi. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help