Puasa Hingga 19 Jam Sehari, Inilah Tantangan Ramadan di Eropa

Tak heran jika durasi waktu berpuasa tiap-tiap daerah pun berbeda-beda, tergantung letak geografis daerah tersebut

Puasa Hingga 19 Jam Sehari, Inilah Tantangan Ramadan di Eropa
YouTube/BookingHunterTV
Brussel, Belgia. 

POS KUPANG. COM - Saat bulan Ramadan, umat Muslim di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa selama sebulan.

Puasa dilakukan dari matahari terbit pada pagi hari hingga terbenam pada sore harinya.

Tak heran jika durasi waktu berpuasa tiap-tiap daerah pun berbeda-beda, tergantung letak geografis daerah tersebut.

Di Indonesia, berpuasa dilakukan selama kurang lebih 13 jam, sedangkan negara lain bahkan bisa lebih dari 20 jam.

Di sejumlah negara Eropa, Belgia misalnya, umat Muslim di negara tersebut harus melakukan puasa selama kurang lebih 19 jam.

Atomium, monumen kristal di Brussels
Atomium, monumen kristal di Brussels (Istimewa/Amalia Nurul Muthmainnah)

"Puasa di sini (Belgia, red) kurang lebih 19 jam, dari jam tiga pagi sampai jam 10 malam," kata Amalia Nurul Muthmainnah, mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Brussels, Belgia, kepada TribunTravel, Minggu (11/6/2017).

Lalu, apakah tantangan bagi umat Muslim yang berpuasa di negara tersebut?

"Di sini yang berat sebenarnya bukan puasanya sih, tapi ngatur waktunya. Karena jarak maghrib ke subuh cuma lima jam," kata perempuan yang kerap disapa Amal ini.

Alumnus Universitas Airlangga ini menjelaskan karena jarak waktu berbuka puasa menuju sahur sangat sebentar, dirinya selalu tidak tidur dari maghrib hingga subuh.

"Jarak maghrib ke subuh cuma lima jam, di tengah-tengahnya kudu solat isya dan tarawih. Jadi biasanya ditahan-tahan untuk nggak tidur, supaya bisa sahur. Tidurnya baru setelah solat subuh," ujar Amal.

Kota Brusel, Belgia

Kota Brussel, Belgia (brussels.be) 

Dari ceritanya, Amal mengakui bahwa puasa Ramadan di Belgia sungguh berbeda dari kebiasaannya di Indonesia.

"Selain beda durasi, bedanya sih di sini bulan puasa nggak kerasa spesial. Kalau di Indonesia kan berasa banget nuansanya, kalau di sini ya sama seperti bulan-bulan lainnya aja," jelas penerima beasiswa Erasmus Mundus tersebut.

Meskipun begitu, Amal mengaku tak begitu banyak mengalami kesulitan selama menjalankan ibadah puasa maupun solat di Brussels.

"Di sini lumayan banyak ya muslimnya, karena Brussels kan melting pot. Jadi banyak warganya dari luar Brussels. Tapi memang belum ada musholla di kampus," tutup Amal. (tribuntravel.com)

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved