VIDEO

VIDEO: Puluhan Pohon di Kupang Ditebang untuk Jenderal Soeharto

PULUHAN pohon berbagai jenis yang ada diatas tanah milik Eben Cornelius Foenay di Kupang NTT, ditebang untuk dijadikan Ruas Jalan Jendreal Soeharto.

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - PULUHAN pohon berbagai jenis yang ada diatas tanah milik Eben Cornelius Foenay di Kupang-Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berukuran tiga pelukan tangan orang dewasa itu ditebang untuk dijadikan ruas jalan sekitar tahun 1960-an. Dan ruas jalan itu kemudian dinamakan jalan Jenderal Soeharto.

Ruas  jalan dengan lebar sekitar 12 meter dan sepanjang 1 km lebih itu membentang dari Polda NTT hingga ke pertigaan Oepura. Jika pada tahun 1960-an, di sepanjang ruas jalan itu hanya berjejer sedikit sekali rumah penduduk dan toko atau tempat usaha, namun kini tahun 2017 atau sekitar 57 tahun di kiri kanan ruas jalan itu sudah tidak ada lagi tanah kosong.

Semuanya sudah diisi dengan rumah penduduk, rumah ibadah, sekolah, dan tempat usaha seperti toko, hotel, apotik, karaoke, meubel dan otomotif, salon, restoran, rumah makan, toko roti. Dan ada beberapa lorong kecil di samping kanan kiri. Kini Jalan Soeharto sudah menjadi jalan kelas 1 dengan nilai jual tinggi. Kondisi rumah dan bangunan itu berfariasi ada yang modern namun juga ada yang kuno.

Eben Pahan (64) mengaku saat lahir, ruas jalan depan rumahnya itu belum dinamai Jalan jenderal Soeharto, penamaan baru terjadi skeitar tahun 1966 saat Presiden Soeharto berkuasa. Eben mengatakan, dulu hanya ada beberapa toko seperti toko Aladin, Toko 81, toko Nilam, yang dulu namnya berbeda. Dan ruas jalan soeharto itu tidak tinggi seperti sekarang. "Dulu rumah saya ini lebih tinggi daripada ruas jalan Soeharto tapi karena ada pelebaran dan peningkatan ruas jalan maka sekarang jalan Jenderal Soeharto letaknya lebih tinggi dibandingkan rumah saya," kata Eben.

Pemilik Toko Aladin, Sutanto Rante, mengatakan, sudah ada di kupang bersam aornagtuanya sejak tahun 1952 lalu. Mereka datang dari Sulawesi dan memulai usaha kecil-kecilan di tempat yang sama dari dulu sampai saat ini. "Dulu datang ke Kupang umur saya masih sekitar 6 tahun dan sudah tinggal di tempat ini dengan orangtua. Tapi toko ini belum ada, mama saya penjahit. Kalau kondisi jalan di depan masih kecil, lebarnya lebarnya hanya 2 meter setengah, dan bebatu batu. Jadi kalau ada mobil mau lewat, ada dua mobil maka satu di pinggir berlabuh baru satu liwat, baru satu bisa jalan," kata Sutanto, di tokonya, Selasa (6/6/2017) siang.

Menurut Sutanto, penamaan Jalan jenderal Soeharto ini baru dilakukan sekitar tahun 1966 setelah Soeharto menjadi Presiden RI kedua. "Tanah untuk dijadikan Jalan Jenderal Soeharto ini milik bapak Eben Foenay, beliau adalah Raja. Dia kasih dan jual ke pemerintah sektar 30 meter kiri dan 30 meter kanan. Di tanah itu ada pohon-pohon besar ukurannya raksasa, pelukan tangan tiga orang dewasa. Ada sekitar 30-40 pohon disini yang dipotong untuk pelebaran jalan," kata Sutanto.

Menurut Sutanto, saat pemerintah hendak menebang pohon-pohon raksasa itu, tidak ada orang di Kupang ini yang berani karena pohon itu berada di sekitar rumah penduduk dan sangat besar. "Pemerintah panggil orang daerah sini, orang rote, sabu, timor, semua takut tebang itu pohon, karena cakar langit semua. Akhirnya pemerintah panggil orang Bali yang datang untuk tebang semua pohon itu," kata Sutanto.

Hal senada disampaikan Sekjen PMKRI, Adrianus Dandi dan anggotanya, Jhon Mesach dan Damianus Refo, Esto Ance, Oktavianus pati dan Juan, ditemui di Marga PMKRI Kupang, Selasa (6/6/3017) siang.

Mereka mendukung adanya Jalan Jenderal Soeharto di Kota Kupang dan wacana pembangunan monumen Soeharto. Menurut Jhon sah saja membangun monumen Soeharto asalkan identitas dan monumen itu harus jelas dan bisa dijelaskan mengenai fakta tentang siapa itu sosok Soeharto. (vel)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help