Umat Stasi Wailiti Tolak Pub `Esek-Esek'

Kehadiran Pub Belang Beach di Kelurahan Wailiti,Kecamatan Alok Barat kembali dipersoalkan umat Stasi Fransiskus Xaverius Wailiti, Paroki Sta. Maria M

Umat Stasi Wailiti Tolak Pub `Esek-Esek'
POS KUPANG/EGY MOA
Pol PP Sikka razia sejumlah hotel dan jaring PSK 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Egy Moa

POS KUPANG.COM, MAUMERE -- Kehadiran Pub Belang Beach di Kelurahan Wailiti,Kecamatan Alok Barat kembali dipersoalkan umat Stasi Fransiskus Xaverius Wailiti, Paroki Sta. Maria Magdalena Nangahure.

Sejumlah 398 umat menandatangani surat penolakan pub yang berubah fungsi menjadi tempat esek-esek atau prostitusi.

Penolakan umat tertuang dalam surat penolakan pembangunan dan operasional Pub Belang Beach dan Madona Pub,tanggal 30 Mei 201 ditujukan kepada Bupati Sikka, Drs.Yosef Ansar Rera.

Surat ditandatangani Ketua Stasi, Anastasia Muku, dan Sekretaris Stasi, Yosef B.Karangora, dan Pastor Paroki Rd.Wilhelmus Lae,CP.

Survey ke Pub Belang Beach dilakukan Ketua RT 01, Marselinus Go, Ketua RW 01, Kelurahan Wailiti, Rofinus Nurak, pada 31 Maret 2017 pukul 21.00 Wita menemukan penyalahgunaan izin. Pengelola Wempi, menekuni usaha ini sekitar tiga tahun menyediakan 18 kamar untuk wanita pekerja seks komersial.

Bagus, mengontrak satu unit bangunan baru dengan 16 kamar. Surat izinya bergabung dengan izin dikelola Wempi. Penambahan bangunan baru ini tidak diketahui aparat pemerintah RT dan RW setempat.

Pemilik Samuel Tunggal mendirikan tiga lokasi baru dengan 48 kamar siap pakai juga akan digunakan menampung perempuan pekerja seks komerasial. Total seluruh kamar di pub ini sebanyak 82 unit.

Pada Pub Madona, dikelola Aris, survey masyarakat menemukan volume musik tidak menggunakan peredam suara dan bangunan terbuka. Dalam dua kali pertemuan warga,menghendaki operasional pub ditinjau kembali oleh pemerintah.

Dalam pertemuan pleno dihadiri pengurus KBG, lingkungan,stasi dan tokoh umat menyepakati menolak pembangunan dan operasional di Pub Belang Beach dan Pub Madona berlokasi di Lingkungan St.Benediktus dan Sta. Theresia Calcuta.

Pertimbangan menutup usaha pub itu, penyalahgunaan izin hiburan untuk prostitusi. Para karyawati memasang tarif kencang Rp 50.000-Rp 100.000. meski pengelola berasalan kamar-kamar itu disediakan penginapan karyawatinya.

Akses ke Pub Belang Beach terbuka bagi anak-anak dan remaja menyaksikan penampilan dan aktivitas karyawati, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Di Pantai Belang ditemukan sampah bekas pembalut, botol bekas dan sampah plastik berserakan.*

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved