Ini Tujuan Para Pelaku Mengambil Sampel Darah Warga

Enam pelaku sindikat mafia pengambilan darah di rumah warga beraksi di Jalan Thamrin wilayah Kelurahan Kayu Putih, kompleks belakang Radio Suara Tiril

Ini Tujuan Para Pelaku Mengambil Sampel Darah Warga
Net
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Maksi Marho

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Enam pelaku sindikat mafia pengambilan darah di rumah warga beraksi di Jalan Thamrin wilayah Kelurahan Kayu Putih, kompleks belakang Radio Suara Tirilolog Kupang, Kamis (25/5/2017) sekitar pukul 10.30 wita.

Para pelaku sudah diciduk aparat Polres Kupang Kota.
Para pelaku tersebut yakni Muh.Ridwan (Pendidikan SMA, alamat KTP di Bulucenrana, Sulawesi Selatan); Simon Tafuli (Pendidikan SMA, tidak ada KTP); Demetriana Binaat (Pendidikan SMA, tidak ada KTP); Indrayani Koehuan (Pendidikan SMA, tidak ada KTP); Asterius Tanggu Solo (Pendidikan SMA, alamat KTP di Wangga-Sumba Timur); Fransiska Usboko (tidak ada KTP, pendidikan D3 Kebidanan, tidak ada STR & SIP). Keenam pelaku merupakan karyawan CV Karya Mandiri Persada Indonesia yang beralamat di RT 030 RW O13 Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang.

Nikolaus Kewuan, salah satu warga Kelurahan Kayu Putih, kepada wartawan pos kupang, Minggu (28/5/2017) siang, menjelaskan, sejak bulan April 2017, dirinya tidak pernah percaya dengan berita di media sosial bahwa ada tindakan pengambilan darah'>sampel darah di rumah warga oleh orang-orang yang mengaku sebagai dokter/tenaga kesehatan padahal pada kenyataannya orang-orang tersebut bukan dokter/tenaga kesehatan.

Sebagai Ketua DPD PPNI Kota Kupang, Niko lalu meminta pelaku menceritakan apa yang sudah dilakukan terhadap korban Edistendis Deran Bali, Alphonsius Ampolo dan Kristina Natalis Bian, warga Kelurahan Kayu Putih tersebut.

Namun, para pelaku yang hanya berpendidikan SMA itu menjelaskan, bahwa para pelaku bertanya apa saja keluhan sakit yang dirasakan saat ini oleh korban, jika ada keluhan sakit maka pelaku meminta korban untuk diambil darahnya agar bisa diketahui langsung penyakitnya.

Selanjutnya sesuai pengakuan para pelaku, kata Niko, jari tangan korban dibersihkan dengan kapas, menusukkan jarum ke jari tangan korban, darah yang keluar diteteskan ke objek gelas, selanjutnya objek gelas tersebut diletakkan di mikroskop yang sudah dihubungkan dengan laptop.

"Pelaku mendiagnosis bahwa korban sedang menderita penyakit A,B,C dan seterusnya. Setelah itu korban yang diambil darahnya harus menyerahkan uang sebesar Rp 50.000 per orang dan jika membeli produk herbal pelaku, maka korban juga harus mengeluarkan uang kurang lebih Rp 600.000 - 800.000.," kata Niko.

Niko yang juga salah satu dosen di STIKES Citra Husada Mandiri Kupang (CHMK) ini, langsung bertindak cepat dengan menelepon aparat kepolisian untuk mengamankan pelaku guna mencegah tindakan penganiayaan oleh masyarakat yang sudah tersulut emosi marah karena informasi yang beredar di media sosial yang meresahkan akhir-akhir ini.

Dirinya bersama warga, kata Niko, langsung membuat LP (Laporan Polisi) di Polres Kupang Kota karena pada dokumen pelaku sudah ada 100 orang warga Kota Kupang yang diambil darahnya sampai April 2017.

"Polisi bertindak cepat dengan langsung dibuat BAP (Berita Acara Pemeriksaan) kepada Pelapor, Korban, Pelaku & Manajer CV Karya Mandiri Persada Indonesia. Serta, menyita peralatan yang digunakan saat beraksi di tempat kejadian perkara (TKP)," kata Niko.

Bersama para wargà, kata Nilo, mereka berharap, polisi dapat membongkar aktor & motif pelaku di balik tindakan yang sangat-sangat meresahkan ini serta menghukum pelaku seberat-beratnya sesuai hukum yang yang berlaku di NKRI.*

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help