Mbay Ibu Kota Kabupaten Nagekeo Seperti Kota Hantu, Ini Penyeabnya

Anda pernah ke Kota Mbay, Ibukota Kabupaten Nagekeo di waktu malam? Lihatlah betapa suramnya kota itu dari ketinggian Kesidari (pintu masuk Mbay dari

Mbay Ibu Kota Kabupaten Nagekeo Seperti Kota Hantu, Ini Penyeabnya
POS KUPANG/ARIS NINU
Jalan El Tari Maumere saat malam hari 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Adiana Ahmad

POS KUPANG.COM, MBAY -- Anda pernah ke Kota Mbay, Ibukota Kabupaten Nagekeo di waktu malam? Lihatlah betapa suramnya kota itu dari ketinggian Kesidari (pintu masuk Mbay dari arah Aegela).

Tak ada gemerlap lampu, gelap seperti kota hantu. Pasalnya, keterbatasan lampu jalan penerang kota. Sampai saat ini, seantero Kota Mbay dan sekitarnya baru 179 lampu jalan yang terpasang. itu pun yang menyala hanya 97 lampu. Sisanya rusak dan tak layak.

Beberapa warga Kota Mbay yang ditemui pekan ini mempertanyakan sistem penataan lampu jalan di kota itu. Pasalnya, rakyat sudah membayar penerangan umum dalam rekening listrik yang disetorkan ke PLN.

"Akibat keterbatasan lampu jalan dan lemahnya sistem keamanan dan ketertiban umum, Mbay saat ini menjadi kota yang tidak bersahabat di malam hari," kata Warga bernama Ebaz.

Kepala Bidang Penataan dan Lingkungan Perkotaan, Dinas Pekerjaan Umun Kabupaten Nagekeo, Nikolaus Toda yang ditemui di Mbay, Rabu (24/5/2017), mengatakan, sampai saat ini memang hanya 97 lampu jalan yang menyala dari 179 lampu yang terpasang. Sisanya, rusak.

"Itu hasil pemeriksaan kita dua pekan lalu. Lampu tersebut ada yang dipasang dari tahun 2011, ada yang baru dipasang tahun 2011. Ada ornamen rusak atau tidak layak. Pasang baru juga ada yang rusak akibat listrik mati hidup. Ada juga lampu yang rusak karena kenakalan remaja," kata Nikolaus.

Nikolau mengungkapkan, idealnya Mbay dan sekitarnya membutuhkan 1000 lampu. Namun yang terpasang, katanya, baru 179, menyala hanya 97 lampu.

Dikatakan Nikolaus, pihaknya akan terus menambah lampu jalan di Kota Mbay seauai dengan ketersediaan anggaran.

" Rencana tahun 2017, ada tambahan 100 buah lampu menggunakan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) dengan total anggaran Rp 2,4 miliarx" kata Nikolaus.

Ia mengatakan, 100 unit lampu itu akan diprioritaskan di rumah ibadah, fasilitas pemerintah, persimpangan dan sekolah.

"Saya berharap masyarakat ikut menjaga fasilitas pemerintah termasuk lampu jalan. Terkadang kita pasang malam, besok pagi sudah hancur berserakan. Kita akan komunikasi dengan PLN apakah daya mampu atau tidak ketika kita menambah lampu jalan. Kalau tidak , masalah baru. Listrik mati hidup, lampu rusak. Padahal, satu lampu jalan, harganya cukup mahal," demikian Nikolaus.*

Penulis: Adiana Ahmad
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved