VIDEO

VIDEO: Yuk ke NTT Belajar Tentang Kerukunan Antar Umat Beragama

Mau belajar tentang Kerukunan Antar Umat beragama, Kepala Kantor Agama Kota Kupang, Ambrosius Korbafo, M.Si,bilang datang saja ke Nusa Tenggara Timur.

Laporan wartawan Pos-Kupang.com, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Mau belajar tentang Kerukunan Antar Umat beragama, Kepala Kantor Agama Kota Kupang, Ambrosius Korbafo, M.Si,bilang datang saja ke Nusa Tenggara Timur.

"Visualisasi pembangunan bidang agama mesitnya dipandang sebagai matahari yang menyinari bumi tanpa membedakan agama, suku ras, dan golongan. Ketika matahari bersinar dan melihat ada orang Islam lalu dia belok dan terus ke orang Kristen? Tidak begitu. Atau ketika matahari bersinar dan lihat ada orang kristen lalu di berbelok ke orang Islam? Tidak. Begitupun hujan yang tercurah dari langit ke bumi, dia tercurah tanpa membedakan suku, ras, agama dan golongam. Karena itu kita harus belajar dari matahari dan hujan," pesan Kepala kementerian Agama Kota Kupang, Ambrosius Korbafo, M.Si, Sabtu (20/5/2017), kepada peserta dialog visualisasi bidang agama di Kota Kupang.

Menurut Korbafo, untuk bisa menerima keberagaman setiap orang harus melaksakan 3P yakni Penerimaaan, Penghomatan dan Penghargaan. Sesuatu yang diterima mestinya dihormati. Dan sesuatu yang sedang dihormati mestinya menjadi sesutau yang kita hargai. "Dan disitulah pengakuan akan keberagaman dalam kehidupan kita disini.  Kalau kita saling menerima, menghormati dan menghargai maka disana niscaya akan terjadi kerukunan yang indah," pesan Korbafo.

Korbafo yakin jika umat beragama di NTT ini bisa menjalankan hal itu  maka akan tercipta kerukunan antar umat beragama kemarin,m jari ini dan yang akan datnag. "Dengan demikian maka akan banyak orang datang untuk belajar tentang kerukunan antar mat beragama yang dinamis dan otentik di NTT. Mau belajar tentang kerukunan itu bisa datang ke Larantuka, Alor, Timor, Sumba, Sabu dan Rote dan kabupaten lainnya di NTT," kata Korbafo.

Dicontohkan Korbafo, di Kabupaten Alor, ada salib yang akan ditancapkan di Gereja Kristen terlebih dahulu diinapkan di rumah seorang muslim dan besoknya baru dipikul oleh sekelompok umat muslim untuk ditancapkan di Gereja. Ada juga kubah untuk mesjid, diinapkan semalam di seorang Kristen, baru besoknya di letakkan diatas mesjid. "Ini salah satu bentuk penerimaan, penghormatan dan penghargaan masyarakat NTT terhadap keberagaman yang ada," kata Korbafo.

Meski demikian, Korbafo mengatakan, masih ada sejumlah tempat di Indonesia belum bisa menerima keberagamaan. Padahal pembangunan bidang agama diharapkan bisa meningkatkan kemudahan umat bergama untuk menjalankan ibadah  sesuai agamanya. "Di Indonesia masih  banyak orang sulit untuk  bisa berdoa menurut agamanya karena kita kurang bersikap menghargai  keanekaragaman yang ada.  Padahal sudah sejak dulu ditetapkan oleh nenek moyang kita. Dan Kemeredaaan yang diperoleh  sejak tahun 1945 terjadi karena berangkat dari keberagaman dengan satu tujuan  utnuk mengusir penjajah dan untuk memperoleh kemerdekaan dan untuk membangun bangsa ini," kata Korbafo.

Korbafo juga menilai, maraknya kasus korupsi, narkoba, seks bebas, melemahnya gotong rotong dan aksi demo yang tidak menghargai perbedaan menjadi petunjuk bahwa penghargaan keberagaman di Indonesia belum sepenuhnya terwujud. Karenanya Korbafo berharap ke depan, hal-hal buruk itu bisa diminimalisir. "Kita harus berupaya menjaga moral dan etika, menghargai Pancasila, mengakui dan menghormati keanekaragaman sebagai fakta dan persatuan sebagai keharusan," kata Korbafo.

Ketua Panitia, Aida C mengatakan peserta kegiatan ini terjadi dari sejumlah tokoh agama, sejumlah Kepala KUA dan lima pembicara diantaranya Dr. Petrus Kase, M.Si, Pastor Jhon, MA dan Dr. Anton Bele.  (vel)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved