Ramai-ramai Dilaporkan, Akun FB Afi Dilumpuhkan usai Unggah Tulisan Menohok ini, Terlalu Kritis?

Melalui tulisannya, Afi juga mengajak pada seluruh rakyat Indonesa untuk menghayati Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dan juga semboyan Bhinn

Ramai-ramai Dilaporkan, Akun FB Afi Dilumpuhkan usai Unggah Tulisan Menohok ini, Terlalu Kritis?
Facebook/Afi Nihaya Faradisa
Afi Nihaya Faradisa 

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.

Tapi tidak, kan?

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan?
Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir

Pada bagian kolom komentar, Afi sempat menuliskan lagi pendapatnya soal tulisan yang ia buat tersebut

"Ini adalah tulisan untuk membenahi landasan berpikir kita, jangan apa-apa dihubungan ke Pilkada Jakarta.

Mengutip perkataan John Dewer, "Pikiran itu seperti parasut; hanya berfungsi ketika terbuka." tulis Afi.

Sontak, tulisan yang kritis, menohok, tegas, dan lugas ini pun langsung dibanjiri dengan komentar-komentar netizen yang terkagum-kagum dengan cara berpikir Afi.

"Lagi-lagi tulisan yang cerdas. Dan hanya bisa dipahami dengan jernih oleh mereka yang berpikiran dan berhati terbuka. Respect!" tulis akun Ni Luh Junial.

"Afi, baca tulisnmu itu mesti meneduhkan hati setiap orang, saya doakan kamu menjadi penerus Bangsa Indonesia yang dapat dibanggakan oleh dunia" tulis akun Endang S.

"Dek, tolong penuhi media sosial dengan tulisan-tulisan seperti ini. Banyak kakak-kakak, om-om, tante-tante, kakek, nenekmu di dunia ini yang ternyata tidak sedewasa usianya (baca: kekanak-kanakan) dan perlu belajar darimu" tulis akun Esther Iriani Hutapea.

"Damn, this is totally insane. Tulisan yang sangat berbobot, namun begitu cair alurnya. Tulisannya menjawab apa yang ada di hati kita sekarang. Angkat topi buatmu, dik. Salut. Salam dari Singaraja, Bali" tulis akun Subianta Eka Kresnawan.

"Wow, salut dengan pemikiranmu, Afi. Soal nanti masuk surga atau neraka biarlah urusan individu sendiri dengan Tuhannya masing-masing. Yang penting bagaimana menata hidup kita berakhlak di mata orang-orang sekitar kita dengan menganggap mereka sebagai saudara kita, siapapun juga termasuk muslim maupun non-muslim" tulis akun Andy Mey.

Berdasarkan pantauan tim TribunWow.com, sampai sekarang, Rabu (17/5/2017) pukul 17.00 WIB, tulisan Afi ini sudah dibagikan sebanyak 15 ribu kali lebih, dibanjiri komentar sebanyak 3 ribu lebih, dan di-likes sebanyak 30 ribu lebih. (Rendy Sadikin )

Editor: Alfred Dama
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved