PosKupang/

Inilah Alasan Mendasar Mengapa Kita Perlu Membaca Buku

Begitupun Bill Gates, pencipta perangkat lunak Microsoft yang melarang anak-anaknya menyentuh gadget sampai mereka berusia 13 tahun.

Inilah Alasan Mendasar Mengapa Kita Perlu Membaca Buku
ilustrasi 

Oleh: Andreas Wato
Relawan Omah Baca Malang

POS KUPANG.COM - Tulisan ini terinspirasi ketika membaca biografi Steve Jobs. Sontak di mata penulis nampak sebuah paradoks berikut ini. Tatkala balita dan anak-anak di Indonesia mulai dikenalkan dan menjadi candu dengan gadget lalu berselancar di jagat maya. Justru para founder Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) seperti Steve Jobs, salah seorang pendiri Apple, membatasi anak-anak mereka menggunakan gadget dan menjelajahi dunia maya yang notabene adalah produk mereka sendiri.Ia malah membiasakan mengadakan makan malam bersama anak-anaknya sambil mendiskusikan buku atau hal-hal menarik lainnya (Isaacson, 2011).

Begitupun Bill Gates, pencipta perangkat lunak Microsoft yang melarang anak-anaknya menyentuh gadget sampai mereka berusia 13 tahun. Bahkan Bill Gates, berani mengeluarkan uang yang banyak pada bulan November 1994, untuk membeli hanya 18 lembar catatan harian Leonardo da Vinci dengan harga 30,8 juta dolar (Gelb, 2001).

Sebuah pertanyaan sederhana penulis adalah mengapa kita perlu membaca buku? Mengapa kita tidak dianjurkan orang sekelas Steve Jobs dan Bill Gate untuk melarang anak-anak mereka menggunakan gadget dalam menjelajah dunia maya termasuk untuk menambah pengetahuan lewat membaca pada alat teknologi canggih tersebut. Adakah keunggulan membaca pada sebuah buku dibandingkan dengan membaca pada media cetak dan media elektronik lainnya?

Diskursus mengenai buku tidak dapat lepas dari aktivitas membaca dan menulis. Sebuah seruan klasik, banyaklah membaca, maka kelak kamu akan dapat menulis; banyaklah menulis maka, kelak kamu akan dapat menghasilkan sebuah buku.

Pernyataan klasik tersebut ada benarnya, buku adalah sebuah produk rekaman tentang sebuah kejadian, sebuah pandangan atau gagasan yang dinformasikan melalui media tulisan. Buku dialog Apology dan Crito yang direkam (ditulis) oleh filsuf Plato merupakan hasil bacaan penjelajahan intelektual filsuf Socrates.

Begitupun catatan harian seniman besar Leonardo da Vinci yang hidup pada peradaban renaissance. Catatan harian sang maestro Monalisa tersebut, merupakan penjelajahan (membaca) keindahan alam yang direrekamnya dalam catatan yang mencapai tujuh ribu lembar.

Menulis tanpa Kertas dan Pulpen
Aktivitas menulis mula-mula dilakukan oleh orang Yunani di atas papyrus, lembaran berserat kasar yang terbuat dari tanaman air dan daun alang-alang. Untuk keperluan pengarsipan, tulisan disimpan dalam bentuk gulungan.

Di kemudian hari, untuk alasan praktis, gulungan tersebut dijilid dan diberi nomor yang disebut codex. Sampai peradaban renaissance ketika pensil dan kertas ditemukan, orang mulai menulis menggunakan pensil dan kertas. Begitulah seterusnya hingga tahun 1456, dikala mesin cetak ditemukan, terbitlah buku pertama menggunakan mesin (Gelb, 2001). Semua berjalan dengan penyempurnaan seperlunya hingga sampai pada abad modern, kita menemukan buku dengan wujud sebagaimana yang lazim kita jumpai.

Pada tahun 1991, ketika internet diperluas penggunaanya dalam bidang komersial, aktivitas membaca dan menulis yang semula terjadi di atas kertas dengan menggunakan pulpen merambah ke dunia maya (cyberspace) sehingga aktivitas membaca dan menulis juga bisa dilakukan tanpa kertas dan pulpen. Dengan demikian, orang bisa menulis dan mengupload serta mengunduh dan membaca secara bebas berbagai informasi dari internet.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help