PosKupang/

Lilin (untuk) Ahok, Ternyata Ini Pesan yang Hendak Disampaikan

Inilah pesan yang harusnya membekas di setiap kita yang bersimpati dan berempati dengan Ahok. Ini juga pesan yang saya tangkap dari aksi

Lilin (untuk) Ahok, Ternyata Ini Pesan yang Hendak Disampaikan
pos kupang/romualdus pius
Warga Kota Ende membakar lilin dengan tulisan save Ahok, Kamis (11/5/2017) di Taman Renungan Bung Karno. 

Oleh: Alex Ofong
Wakil Ketua DPRD NTT

POS KUPANG.COM - Berbagai aksi merespons putusan pengadilan memenjarakan Basuki Thahaja Purnama alias Ahok dalam berbagai bentuk, khususnya aksi simpatik bakar lilin -1.000 lilin (di berbagai tempat) atau 1.001 lilin (di Lembata) -diharapkan tidak hanya sebagai lilin untuk Ahok, tetapi terutama Lilin Ahok untuk kita, sebagai pembelajaran untuk kita.

Inilah pesan yang harusnya membekas di setiap kita yang bersimpati dan berempati dengan Ahok. Ini juga pesan yang saya tangkap dari aksi Tokoh Lintas Agama, yang diinisiasi Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) ke instansi penting, termasuk ke DPRD NTT. Tulisan ini bermaksud memberi pesan dan membekaskan kesan itu kepada kita.

Apresiasi setinggi-tingginya disampaikan kepada semua kita yang tergerak untuk melakukan aksi simpatik sebagai bentuk protes, tetapi sekaligus menunjukkan eksistensi dan komitmen kuat pada empat pilar kebangksaan, yang diyakini sudah selesai, tetapi kini dirongrong kembali, oleh paham, gerakan, dan Ormas radikal dan intoleran.

Aksi 1.000 lilin di Kupang dan bebrapa tempat di NTT menunjukkan rasa empati bersama Ahok, yaitu berduka sambil memanjatkan doa dan harapan. Berduka atas matinya politik rasional yang melahirkan pemimpin kuat berkarakter, matinya hukum yang adil, matinya keadilan itu sendiri, matinya komitmen kebangsaan. Juga berharap dan berdoa untuk Indonesia menjadi lebih baik, yang ditandai dihidupkannya politik dimokratis rasional, berseminya hukum yang adil, ditegakkannya kembali keadilan, diteguhkan kembali komitmen kebangsaan dalam bingkai keindonesiaan kita.

Dalam spirit itu, tersembul kutukan terhadap paham, gerakan, dan Ormas radikal dan intoleran itu, sekaligus menolak kehadirannya di Indonesia, khususnya di NTT. Di Lembata, aksinya unik. Bukan Aksi 1.000 Lilin, tapi `1.001 Lilin', yang mengingatkan kita pada Kisah 1001 Malam Sharazhat yang luar biasa itu. Satu lilin besar diletakkan di tengah, lalu semua yang datang, dengan membawa lilin masing-masing mengambil cahaya dari lilin yang satu dan sama itu.

Simbolismenya kaya makna. Bisa 1 lilin 1.000 doa yang dipanjatkan; tetapi lebih dari itu, dari lilin yang satu dan sama, berbagi cahaya untuk banyak orang, tak sebatas yang hadir, dan di tempat itu, tapi mecakup sekian banyak orang yang bersimpati dan mengagumi serta menjejaki sosok kepimpinan Ahok; bukan hanya di Lembata dan NTT, tapi juga di ruang wilayah lain; bukan hanya sekarang dan lalu, tapi terutama untuk masa mendatang, untuk NTT dan Indonesia, Indonesia dalam rajutan sejarah masa depan. Lilin itu adalah Lilin Ahok untuk kita.

Karena itu, maka kontekstualisasi dan pemaknaan yang paling benar dan berguna bagi kita adalah menimba lessons learnt dari kekinian kondisi kebangsaan, dan terutama dari Sosok Kepemimpinan Ahok, untuk kita, dalam konteks ruang dan waktu kita ke depan. Apa itu? Minimal tiga hal, yang lain boleh ditambahkan: kepemimpinan Ahok, nasionalisme latah, Indonesia yang belum selesai.

Pertama, kepemiminan Ahok. Ketika Ahok `kalah politik' dalam Pilgub DKI, banyak orang meneriakkan ajakan Ahok ke NTT untuk NTT-1. Boleh saja. Asal dia mau. Tetapi ini kemustahilan, karena efek Ahok ketika `kalah politik' dan sekarang `kalah hukum', bukan hanya skala DKI tetapi Indonesia, bahkan dunia. Efek Ahok mengindonesia dan beresonansi bukan hanya soal `karakter kepemimpinannya' tetapi juga ke masalah kebangsaan, radikalisme yang intoleran.

Karena itu, pilihan cerdas dan benar untuk memaknai fenomena Ahok adalah menimba lessons learnt dari karakter kepemimpinannya. Sebagaimana simbolisme lilin di atas, Ahok, sebagai lilin, cahayanya diambil dan dibagi ke banyak tempat, ke banyak orang, ke banyak politisi yang mau belajar dan meneladaninya. Bahwa karakternya yang tegas, karena bersih-jujur-berani, dan berintegritas, itulah yang mesti diinternalisasikan ke NTT. Spirit kepeminpinanya itulah yang dibawa ke NTT untuk menjiwai sekaligus membingkai proses suksesi dan implementasi kepemimpinan NTT ke depan.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help