PosKupang/

Agar Harga Mati tidak Mati Harga

Masifnya isu radikalisme dijawab gerakan tandingan; gerakan memertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Agar Harga Mati tidak Mati Harga
pos kupang/enold amaraya
ilustrasi 

Oleh: Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi FISIP Undana, Peneliti Institut Sophia Kupang

POS KUPANG.COM - Frase harga mati menjadi salah satu isu seksi di jagat sosial Indonesia akhir-akhir ini. Frase ini tidak muncul di ruang hampa. Frase harga mati muncul karena konteks tertentu. Konteksnya adalah beragam isu radikalisme yang masif muncul di masyarakat. Karena itu maka frase harga mati merupakan jawaban atas beragam isu dan gerakan radikal.

Masifnya isu radikalisme dijawab gerakan tandingan; gerakan memertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berbagai aksi solidaritas untuk memertahankan NKRI kemudian muncul di mana-mana. Revolusi bunga, jika memang disebut demikian, merupakan bagian dari perlawanan kelompok nasionalis yang masih menempatkan persatuan bangsa sebagai cita-cita utama. Selain revolusi bunga, revolusi lilin pun bangkit diberbagai tempat.

Karangan bunga memenuhi markas kepolisian di pusat sampai di daerah. Tampak satu warna di sana. Mendukung lembaga kepolisian untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa; bahwa NKRI, sebagai sebuah entitas nasional, tidak bisa ditawar-tawar lagi dengan berbagai bentuk ideologi apa pun. Polisi dan aparat keamanan didukung penuh untuk persatuan itu. Kembang yang sama juga mengandaikan persatuan tidak hanya menjadi tugas kepolisian dan aparat keamanan an sich. Persatuan dan kesatuan harus menjadi tugas semua anak bangsa.

Bunga dan lilin yang terus menemani semua orang diberbagai aksi untuk mendukung perdamaian di negeri ini mau mengatakan bahwa NKRI tidak bisa ditawar-tawar lagi. NKRI merupakan sebuah kesepakatan final. Karena final maka NKRI mengikat semua orang. Setiap yang merongrong NKRI harus dilawan dan mesti ditindak. Harga mati mendapatkan pemahaman lengkapnya di sini.

Tulisan ini ingin mengingatkan banyak pihak yang bergerak dan beraksi untuk menjaga persatuan. Semacam peringatan bahwa harga mati segera berubah menjadi sesuatu yang mati harga jika kita tidak menjaga intensitas dan kontinuitas gerakan.

Konteks Kekinian
Sebagai sebuah bangsa, Indonesia tengah diuji oleh kekuatan radikalisme. Kekuatan ini bekerja secara inheren dengan berbagai gejala lain di masyarakat. Politik merupakan ruang liberal yang dapat dipakai untuk tujuan penyebaran beragam isu radikal. Dalam pemahaman liberal, setiap orang berhak dan bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Di sini, kita harus memeriksa peran sosial media sosial.

Masalahnya, ketika politik menjadi alat untuk membongkar kesepakatan bersama yang telah menjadi nilai yang baik maka realitas demikian justru akan banyak memberi dampak negatif ketimbang positif.

Fakta menunjukan jika beragam isu radikal saat ini banyak memanfaatkan media sosial sebagai alat utamanya. Di ruang liberal yang sama, setiap orang dan atau kelompok bebas membangun dan membentuk media seturut keinginannya. Sejauh tujuannya tercapai, kualitas pemberitaan menjadi hal yang bisa saja diabaikan.

Pandangan obyektif tentang politik, ekspresi berimbang tentang kultural dan penjelasan logis pada ranah estetis seperti disampaikan Karppinen (dalam Hesmondhalgh dan Toynbee, Ed. 2008) jelas diabaikan dengan amat vulgar. Itulah alasan mengapa media sosial tidak hanya berperan sebagai alat tetapi sekaligus menjadi pesan. Pesan radikalisme. Karena membentuk dan menyebarkan pesan radikal maka media sosial yang berkarakter demikian laik disebut radikal pula.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help