PosKupang/

Hoax, Media dan Jurnalisme Investigasi, Inilah Pesan dari World Press Freedom Day 2017

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir. Jusuf Kalla hadir membuka acara ini pada pagi hari.

Hoax, Media dan Jurnalisme Investigasi, Inilah Pesan dari World Press Freedom Day 2017
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Warga membubuhkan cap tangan saat sosialisasi dan deklarasi Masyarakat Indonesia Anti Hoax di Jakarta, Minggu (8/1/2017). 

Oleh Tony Kleden
Wartawan, mengajar jurnalistik di SMA Seminari St. Rafael Oepoi Kupang

POS KUPANG.COM - Mengambil tema "Critical Minds for Critical Times: Media's Role in Advancing Peaceful Just and Inclusive Societies" peringatan World Press Freedom Day 2017 di Jakarta 2-4 Mei 2017 disebut-sebut para peserta dari luar negeri sebagai sangat mewah. Kemewahan itu menyata dari serangkain acara yang diatur dengan sangat bagus, akomodasi dan konsumsi para peserta yang terjamin dan tersaji dengan sangat profesional.
Rangkaian acara di Jakarta Convention Center ini tambah istimewa lagi karena

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir. Jusuf Kalla hadir membuka acara ini pada pagi hari. Sedangkan Presiden Joko Widodo, yang barusan kembali dari luar negeri, hadir di tengah komunitas jurnalis dunia pada gala dinner malam harinya.

Kehadiran presiden dan wakil presiden pada satu acara yang sama pada hari yang sama dan di tempat yang sama itu tidak lazim. Kehadiran kedua pucuk pimpinan di negeri ini mesti dibaca sebagai apresiasi yang tinggi kepada komunitas jurnalis dan jurnalisme itu sendiri.

Para wartawan yang hadir merupakan utusan dari beragam negara. Dari Asia, Eropa, Amerika Australia hingga Afrika. Sudah tentu, wartawan yang hadir adalah mereka yang diundang panitia. Dan, yang diundang hanya wartawan dari media yang jelas dan diakui keberadaannya oleh institusi yang berkompeten yang keberadaannya dibentuk dan atau diakui negara. Jurnalis dari Indonesia diundang oleh Dewan Pers.

Dari NTT panitia mengundang empat wartawan utusan dari organisasi wartawan resmi (PWI, AJI, IJTI dan PRSSNI/Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia) dan seorang staf pengajar dari Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana).

Banyak isu dan tema dibicarakan dalam acara tahunan ini. Sejumlah rekomendasi ditelurkan. Di ruangan yang sangat terbatas ini, tulisan ini hanya ingin menyentil beberapa hal penting yang dibahas atau didiskusikan, dan karena itu patut diperhatikan.

Hoax
Hoax atau berita bohong tidak hanya ramai di Tanah Air. Berita bohong ini juga ramai di begitu banyak negara. Di banyak negara hoax sudah sangat meresahkan dan mengganggu jagat informasi. Di Rusia pemerintah melalui Menteri Luar Negeri meminta PBB membuat strategi melawan hoax.

Di Indonesia, Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, sangat gerah dengan berita-berita hoax yang mendominasi ruang publik. Prasetyo meminta agar setiap berita harus dicek ulang. Prasetyo bahkan meminta kepada pengelola media televisi agar isu murahan dan tidak terverifikasi alias hoax itu tidak perlu menjadi topik talkshow.

Umumnya hoax itu muncul dari media sosial (medsos) yang belum terverifikasi menurut kaidah jurnalistik. Hoax membanjiri konsumen media dengan mengutamakan kecepatan. Akurasi dan kebenaran menjadi absurd. Tanpa narasumber yang valid, tanpa verifikasi lapangan berita-berita mendatangi konsumen media tanpa bisa dibendung. Seperti berada di rimba raya informasi, konsumen media disesaki oleh berita-berita yang sulit dipercaya kebenarannya.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help