PosKupang/

Tradisi Setelah Menerima Amplop Hasil Kelulusan SMA/SMK

Pertama, tradisi coret-coret pakaian seragam sebagai ungkapan euforia dan kedua, tradisi penggunaan pakaian rapi

Tradisi Setelah Menerima Amplop Hasil Kelulusan SMA/SMK
POS KUPANG/NOVEMY LEO
Sejumlah siswa SMAN 1 Kupang mencorat coret baju usai kelulusannya, Selasa (3/5/2017) 

Oleh: Kris Ibu
Alumnus SMA Seminari St. Rafael Oepoi-Kupang

POS KUPANG.COM -- Kita patut memberi apresiasi kepada saudara-saudari SMA/SMK sederajat yang telah mendengar pengumuman hasil kelulusan. Pengumuman hasil kelulusan kali ini mempertontonkan dua "tradisi" ketika siswa dan siswi menuju ke sekolahnya untuk menerima amplop kelulusan.

Pertama, tradisi coret-coret pakaian seragam sebagai ungkapan euforia dan kedua, tradisi penggunaan pakaian rapi (kebaya, pakaian adat dan jas). Mari kita simak dan bedah dua `tradisi' ini dengan cermat.

Tradisi
Harian Pos Kupang menurunkan berita `Siswi SMK Giovanni berkebaya saat terima amplop kelulusan 2017'. Para siswi berpakaian stelan kebaya dibarengi sepatu high heels, sedangkan para siswa mengenakan jas yang dipadankan celana jeans.

Pemandangan yang serupa terlihat pada SMAN 8 Kupang. SMAN 8 Kupang mewajibkan para siswi mengenakan kebaya dan kain tenun, sedangkan para siswa mengenakan kemeja putih dan celana hitam dengan selendang motif tenun.

Hal senada juga dilakukan SMU Kristen Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, di mana kepala sekolahnya mewajibkan siswa dan siswi kelas III berpakaian jas serta kebaya ketika menerima amplop kelulusan di sekolah. Hal ini (pemakaian jas dan kebaya) menurut Kepala Sekolah, Dadimesa Dokubani, menjadi tradisi SMU Kristen Waikabubak setiap pembagian amplop kelulusan siswa dan sudah berlangsung sejak tahun 2016 (Pos Kupang, 3/5/20117).

Sistem di atas mengingatkan saya akan pengalaman waktu SMA beberapa tahun lalu. Semua kelas III yang hendak datang ke sekolah untuk mendengar hasil pengumuman kelulusan diwajibkan oleh pihak sekolah untuk mengenakan pakaian rapi (baju berkerah dan celana panjang).

Pemandangan lain dan kontras terlihat di seputaran SMA Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Kupang, juga siswa dari berbagai sekolah lainnya. Mereka mencoret-coret pakaian seragam sekolah mereka sebagai bentuk luapan kegembiraan dan euforia. "Ini tradisi pak. Kami bahagia bisa lulus dan siap lanjut ke kuliah," kata Tanty dan Mery, dua siswa SMA Negeri 3 Kupang yang dimintai komentar oleh wartawan Pos Kupang.

Aksi coret-coret juga terlihat di depan bank Mandiri Kupang, di Pantai Tedys dan Ketapang Satu (Pos Kupang, 3/5/2017).

Oxford Dictionary mengartikan tradisi selain sebagai "a belief, custom or way of doing something has existed for a long time among a particular group of people" (kepercayaan, kebiasaan atau cara melakukan sesuatu yang telah ada sejak lama di antara sekelompok orang tertentu), juga sebagai "a set of these beliefs or customs: religions/cultural/ literary tradition" (seperangkat keyakinan atau adat istiadat yang terdiri dari: agama, budaya, tradisi sastra).

Pengertian ini dengan sendirinya mau mengafirmasi bahwa aksi coret-coret dikategorikan sebagai tradisi yang hanya dimengerti secara partikular; hanya sebatas kebiasaan. Sebaliknya, `berpakaian rapih' dikategorikan sebagai tradisi yang dimengerti secara universal; memahami secara utuh makna dari tradisi' itu sendiri yakni bukan hanya sebatas kebiasaan, tetapi sebagai sebuah proyek kebudayaan yang patut diteruskan. Atau seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mendefinisikan `tradisi' sebagai: Penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.

Menerapkan Tradisi Sesungguhnya
Dua tradisi di atas yang menampilkan kekhasannya masing-masing dan menawarkan kepada kita untuk memilih mana yang paling baik. Saya kira pihak sekolah yang lebih bertanggungjawab dalam hal ini untuk meneruskan tradisi yang mana. Namun, sebuah anjuran praktis, kiranya pihak sekolah yang belum menerapkan tradisi yang sesungguhnya, dapat menerapkannya dan membuang jauh tradisi yang selama ini hanya dimengerti kebanyakan orang secara partikular.

Seperti penggalan "Tapaleuk": "bet harap bapa dan ibu guru dong bisa buat pengumuman model laeen...anak-anak dan orangtua dipanggil ke sakolah ko kasi pake ana dong baju adat ato kasi pake kabaya untuk yang parampuan..." (Pos Kupang, 3/5/2017).

Oleh karena itu, tradisi yang bersifat universal mesti diteruskan pihak sekolah yang selama ini menjalankannya dan patut menjadi contoh atau rujukan bagi sekolah lain yang belum menerapkan sistem ini. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang tahu betul akan makna tradisi sesungguhnya.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help