PosKupang/

Urgensi Menyegarkan Nasionalisme, Karya Penulis Sumba yang Sungguh Menggugah

Tiga tahun setelah kemerdekaan, tepatnya 1948, Kabinet Amir Syarifuddin jatuh dan naiklah Mohammad Hatta sebagai Perdana

Urgensi Menyegarkan Nasionalisme, Karya Penulis Sumba yang Sungguh Menggugah
TRIBUN NEWS / HERUDIN
ilustrasi 

Oleh: Rofinus D Kaleka
Mantan wartawan, PNS di Kabupaten Sumba Barat Daya

POS KUPANG.COM - Sebagaimana kita ketahui bersama setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, kondisi politik negara dan bangsa Indonesia masih serba darurat atau belum stabil. Negara dan bangsa Indonesia sedang dalam masa revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan dan penjajah Belanda masih berusaha kembali menguasai Indonesia, sehingga kondisi politik Indonesia bergejolak kencang dan panas.

Tiga tahun setelah kemerdekaan, tepatnya 1948, Kabinet Amir Syarifuddin jatuh dan naiklah Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri yang menyebabkan terjadi perseteruan di antara keduanya yang menyeret sejumlah partai seperti PNI, Masyumi, dan PSI. Terjadi perpecahan antar golongan dan ideologi. Di samping itu muncul juga ketegangan di kalangan TNI. Saling culik terjadi antar satuan. Pasukan Siliwangi dari Jawa Barat terpaksa hijrah ke Solo karena menuruti perjanjian Renville dan Belanda menguasai kembali Jawa Barat.

Kondisi politik tersebut dinilai sangat berpotensi mengancam nasionalisme, persatuan dan kesatuan negara dan bangsa Indonesia yang baru merdeka. Oleh karena itu Presiden Soekarno, menggulirkan kebijakan politik strategis dan menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), yang merupakan momentum sejarah saat berdirinya Boedi Oetomo.

Boedi Oetomo yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908, disepakati sebagai organisasi politik kepemudaan yang paling moderat dan menjadi tonggak awal kebangkitan nasionalisme (kesadaran rasa cinta bangsa dan tanah air), yang mempersatukan seluruh kekuatan anak bangsa dari berbagai daerah dan pulau, suku, agama, ras dan antar golongan untuk membebaskan diri dari penindasan dan penderitaan oleh penjajah kolonial Belanda.

Soekarno menetapkan Harkitnas dengan tujuan mengenang kembali semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan yang sudah tercetus sejak berdirinya Boedi Oetomo. Harapannya dapat menjadi inpirasi untuk mencegah perpecahan akibat pertengkaran elite partai politik dan bersatu kembali bersama rakyat untuk melawan Belanda.

Dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional pertama pada tanggal 20 Mei 1948, digelar acara dengan merangkul partai dari berbagai golongan, tokoh politik dan masyarakat. Dalam situasi politik yang mencekam saat itu, di Solo banyak pasukan yang hijrah dari Siliwangi mengadakan pawai, pertandingan dan ziarah bersama.

Sejarah membuktikan kebijakan politik Soekarno tersebut mampu mencegah perpecahan bangsa Indonesia dan dengan semangat nasionalisme pemerintah, partai politik dan masyarakat Indonesia bersatu kembali untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dan, atas dasar semangat yang sama itulah, sehingga ancaman demi ancaman yang menggoda nasionalisme, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, selalu dilalui dengan aman dan damai.

Godaan dan Ancaman selalu Menyeruak
Godaan dan ancaman terhadap nasionalisme, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia selalu saja menyeruak dari waktu ke waktu. Pada masa penjajahan sampai masa revolusi, sumber ancamannya berasal dari penjajah Belanda dan Jepang, yang melancarkan politik devide et impera (adu domba dan memecah belah) dengan tujuan menguasai tanah air dan bangsa Indonesia dengan mudah.

Sedangkan sejak masa orde lama, orde baru sampai masa reformasi sekarang ini, sumber ancamannya berasal dari dalam negeri sendiri, yang melancarkan politik diskriminsi SARA, dengan tujuan dan motif yang sangat dangkal, yaitu hanya karena kehausan dan kerakusan para "oknum" politisi tertentu untuk berkuasa dan mendominasi kekuatan perekonomian negara dan bangsa.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help