PosKupang/

Belajar Mencintai Panggilan Profesi, Ini Catatan bagi Bidan di NTT

Seorang bidan setidaknya harus memiliki dua kemampuan dasar, yakni kemampuan inteligensia dan kemampuan teknis.

Belajar Mencintai Panggilan Profesi, Ini Catatan bagi Bidan di NTT
POS KUPANG/NOVEMY LEO
PERIKSA - Bidan Senior, Gilda Saena didampingi mahasiswa kebidanan, melayani pasien ibu hamil di Poli kebidanan Puskesmas Oipoi Kupang, Sabtu (7/5/2017) pagi. 

POS KUPANG.COM - Harapan bidan senior NTT, Rofina Naben, Amd.Kep agar pemerintah daerah ini mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para bidan patut diberi dukungan. Sebab bidan merupakan profesi yang berhubungan langsung dengan manusia dan sangat menentukan mati hidupnya seorang ibu saat melahirkan.

Seorang bidan setidaknya harus memiliki dua kemampuan dasar, yakni kemampuan inteligensia dan kemampuan teknis. Kemampuan inteligensia berkaitan dengan kecakapan dan kedalaman penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dalam bidang yang berkaitan dengan profesi kebidanan. Sedangkan kemampuan teknis berkaitan dengan implementasi dari ilmu pengetahuan kebidanan itu dalam praktiknya di lapangan.

Untuk memiliki dua kemampuan dasar tersebut, salah satu cara yang wajib atau harus dilakukan ialah mengikuti pendidikan dan pelatihan secara terus-menerus, simposium, seminar dan berbagai kegiatan lainnya. Agar bisa mengikuti kegiatan tersebut, memang membutuhkan biaya. Biaya tersebut semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menganggarkannya.

Peningkatan kualitas diri tentu tak hanya dengan mengikuti pendidikan formal yang membutuhkan anggaran besar. Peningkatan kemampuan atau kapasitas diri seorang bidan juga bisa dilakukan dengan cara aktif mencari sumber-sumber pengetahuan yang berkaitan dengan profesinya.

Dengan perkembangan teknologi yang pesat saat ini, ada begitu banyak sumber referensi yang bisa memperkuat basic ilmu yang sudah dimiliki. Yang dibutuhkan adalah apakah seorang bidan memiliki kemauan untuk mencari sumber referensi tersebut atau menunggu orang menyelenggarakan dan memberikan pelatihan?

Selain memiliki dua kemampuan dasar, seorang yang berprofesi sebagai bidan juga harus bisa tersenyum dan bersikap ramah terhadap pasien. Hal terakhir ini yang sering dikeluhkan masyarakat umum selama ini. Banyak orang yang menyebut dirinya bidan hanya karena dia mengantongi sertifikat pendidikan kejuruan ini bekerja di lembaga kesehatan sebagai bidan, tapi tidak memiliki kemampuan untuk bersikap ramah dan murah senyum.

Dia sudah merasa cukup kuat profesinya jika sudah memikili dua kemampuan dasar, yakni inteligensia dan teknis tanpa memiliki sikap ramah dan murah senyum. Padahal profesi itu menuntutnya untuk menguasai berbagai hal agar pasien bisa cepat sembuh.

Sikap ramah dan murah senyum ini tak perlu harus dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan, tak perlu adanya anggaran dana dari pemerintah. Yang diperlukan di sini ialah adanya kemauan dari bidan sendiri untuk belajar mencintai panggilan profesinya.

Mencintai panggilan profesi berarti belajar mandiri untuk berubah dari kebiasaan tidak ramah menjadi ramah dan dari kurang terampil menjadi terampil dan profesional menangani pasien. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help