VIDEO

VIDEO: Bidan di NTT Rogoh Kocek Rp 1,5 Juta untuk Pelatihan Ketrampilan

Menjadi bidan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Setiap saat perlu peningkatan kualitas dan keilmuan dan harus merogoh kocek sendiri Rp 1,5 juta

Laporan wartawan Pos-Kupang.com, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Menjadi bidan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Setiap saat perlu peningkatan kualitas dan keilmuan. Dan ini harus merogoh kocek sendiri Rp 1,5 juta. Karena tak ada fasilitas dari pemerintah untuk peningkatan sumber daya bidan ini.

Bidan senior NTT, Rofina Naben, AMD.Keo menyatakan, untuk peningkatan kualitas bidan tersbeut, para bidan di Kabupaten Alor harus nenyediakan uang Rp 1,5 juta per orang

Ditanya soal profesionalitas bidan, Rofina mengatakan, telah berulangkali dia tekankan, agar bidan harus bekerja dengan hati. Kita menghadapi manusia bukan menghadapi kertas.

"Apalagi kita berhadapan dengan dua nyawa. Jadi kita harus betul-betul memiliki hati yang penuh kasih dan rasa tanggungjawab terhadap ibu sehingga dia bisa menerima keadaanya dengan baik," kata Bidan senior, Rofina Naben alias Fin (68).

Menurut Fin, seorang bidan harus terus berupaya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya agar bisa menjadi bidan yang profesional. Caranya, dengan rajin mengikuti berbagai pelatihan seperti simposium, seminar atau pendidikan lanjutan.

"Jika diundang seminar dan pelatihan, harus datang. Terus belajar tentang ilmu kebidanan kan sekarang gampang, kita bisa melihat di internet. Dengan demikian bisa menambah pengalaman dan ilmu sehingga dalam melaksanakan tugasnya, dia pasti bekerja dengan baik dan sesuai dengan standar operasional yang baku," jelas Fin yang sudah 44 tahun menjadi bidan ini.

Selain menguasai pengetahuan, seorang bidan harus care dan bisa memberikan dukungan moril kepada ibu.

"Seorang bidan yang sudah pernah melahirkan, pasti dia sudah tahu bagaimana rasa sakit saat seorang ibu melewati proses kelahirannya. Bidan bukan saja cermat secara ilmu pengetahuan tapi juga harus care, ramah, pakai hati, manusiawi saat mendampingi ibu yang melahirkan. Dengan dukungan psikis yang baik maka ada banyak hal yang bisa diatasi dan tidak perlu timbul," kata Fin.

Menurut Fin, jika bekerja dengan hati dalam menghadapi pasien ibu yang hamil dan melahirkan, maka bidan harus memperlakukan ibu itu seperti kakak, adik, mama, orangtua sendiri. "Meski kadang dia (ibu) bersikap tidak sesuai dengan apa yang saya mau, tapi itu harus dipahami bahwa dia dalam keadaan kesakitan," kata Fin.

Halaman
1234
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help