PosKupang/

Inilah Bahaya Perdagangan Manusia

Akhir-akhir ini, media masa lokal maupun nasional kerapkali memberitakan tentang nasib sial tenaga kerja Indonesia yang

Inilah Bahaya Perdagangan Manusia
Net
Ilustrasi 

Oleh: Hardy Sungkang, S. Fil
Bekerja di STIKes St. Paulus Ruteng

POS KUPANG.COM - Fenomena krusial yang terus bergulir di tengah kehidupan sosial masa kini adalah persoalan tenaga kerja yang diperdagangkan. Tenaga kerja yang dimaksud adalah tenaga kerja Indonesia yang berada di negara asing sebagai korban perdagangan manusia.

Akhir-akhir ini, media masa lokal maupun nasional kerapkali memberitakan tentang nasib sial tenaga kerja Indonesia yang berada di negara asing. Di antaranya nasib tenaga kerja yang dideportasi, ditindas pada tempat mereka bekerja, ditikam oleh orang yang tidak dikenal, dan kematian akibat sakit.

Baca: Kisah Para Buruh Migran di Serawak Malaysia, Anda Bakal Tercengang (2)

Kenyataan sosial seperti ini menjadi sebuah inspirasi yang lebih merujuk pada sikap empati. Sebagai warga negara yang memiliki hak dan kebebasan untuk merdeka, maka saya berani mengasumsikan bahwa persoalan ini merupakan detik-detik menuju negara yang buram dan kelam.

Para imigran seringkali mengalami nasib buruk saat berada di wilayah tujuan. Kondisi mereka (baca: imigran) di luar negeri seringkali memilukan bahkan menyedihkan. Entah mengapa, fenomena migran sangat berdampak luas bagi perkembangan serta resistensi suatu negara.

Baca: Kisah Para Buruh Migran di Serawak Malaysia, Anda Bakal Tercengang (1)

Fenomena migran yang setiap waktu terus menggulingkan peradaban suatu negara berujung pada kegagalan pandangan. Pandangan negara yang futuristik menjadi mandek jika persoalan sosialnya selalu mengobjektivasikan manusia sendiri.

Penulis coba meracik fenomena ini dengan memperlihatkan kelemahan pengawasan negara. Fungsi kontrol sosial negara tampak lemah dan rapuh. Negara sebagai ruang dan wadah yang menjamin seluruh pengawasan kehidupan masyarakat menjadi fakum di tengah gentingnya masalah sosial.

Kerapkali negara bersikap pura-pura. Negara yang dimaksud adalah para pelaku (baca: pemerintah) yang mengontrol seluruh resistensi serta eksistensi negara. Pertanyaan refleksi untuk kita adalah apakah negara (pemerintah) kita sengaja tidak gubris dengan persoalan seperti ini?

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help