PosKupang/

Salah Kaprah Tentang Iman dan Agama, Inilah yang Sebenarnya

Nama yang diberikan kepada Pencipta itu rupa-rupa sesuai ajaran dan tradisi setempat. Ajaran dan tradisi itulah

Salah Kaprah Tentang Iman dan Agama, Inilah yang Sebenarnya
ilustrasi 

Oleh: Anton Bele
Pemerhati masalah sosial keagamaan, tinggal di Kupang

POS KUPANG.COM - Salah kaprah tentang arti Iman dan Agama menjadi penyebab munculnya berbagai gejolak dalam masyarakat yang berlabelkan agama. Iman dan agama itu beda tapi satu dan sama tujuan.

Semua orang beriman. Tidak semua orang beragama. Iman itu satu, agama berbeda-beda. Namanya manusia, dari awal terciptanya sampai akhir sejarah manusia ini, entah kapan saja, beriman. Iman itu percaya pada Pencipta.

Nama yang diberikan kepada Pencipta itu rupa-rupa sesuai ajaran dan tradisi setempat. Ajaran dan tradisi itulah yang muncul pada waktu tertentu, di tempat tertentu yang namanya agama.

Agama itu ada awalnya dalam sejarah dan akan ada akhirnya. Ada pribadi tertentu yang mengawali agama. Pribadi itu ada yang dikenal dengan istilah Nabi, Rasul, Utusan dan lain-lain. Pribadi pendiri agama tertentu itu adalah pribadi beriman yang dipilih oleh Pencipta pada waktu dan tempat tertentu.

Anggapan dasar di atas inilah yang menjadi titik tolak dari kita setiap manusia, termasuk kita di Indonesia untuk saling menghormati, saling mengasihi sebagai sama-sama manusia, sesama, yang percaya pada Pencipta.

Kalau agama ada penganutnya. Tapi iman tidak ada penganut karena dalam iman itu tiap pribadi langsung berkontak dengan Pencipta secara sadar. Iman itu jawaban dari tiap pribadi pada pernyataan Diri Pencipta kepada setiap pribadi manusia. Pernyataan Diri Pencipta kepada manusia itu disebut Wahyu. Jawaban manusia terhadap Wahyu itulah yang disebut iman. Cara mengungkapkan iman itu yang terumus dan terwaris melalui agama.

Penganut Agama
Setiap penganut agama taat pada ajaran dan aturan yang digariskan dan diwariskan oleh para Pemimpin Agama. Penganut agama adalah pewaris dan pelanjut dari pendiri agama. Dari para penganut ini dituntut untuk setia menjaga keaslian ajaran dan menyesuaikannnya dengan perkembangan zaman.

Di sinilah dibutuhkan kedewasaan para penganut agama, mulai dari pemimpin sampai kepada yang dipimpin. Para pemimpin dan calon pemimpin setiap agama mempunyai kewajiban untuk mempelajari isi ajaran dan perkembangan tradisi dari agama yang dianut supaya dapat menuntun penganut yang lain.

Berbagai sekolah khusus didirikan untuk setiap calon pemimpin agama. Para pemimpin agama ini dikenal dengan bermacam-macam nama dan istilah yang dipakai, seperti istilah Rabi, Guru, Imam, Pendeta, Pastor, Ulama. Mereka ini merupakan kelompok khusus dalam kelompok besar penganut agama tertentu yang terdiri dari pemimpin tertinggi sampai kepada pemimpin di tingkat paling dasar.
Mereka inilah yang menamakan diri dan dinamakan Pemimpin Agama.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help