PosKupang/

Membiasakan Siswa di NTT Berpakaian Adat, Apa Mungkin?

Para siswa yang memakai kebaya dan jas serta pakaian adat motif daerah-daerah di NTT pada saat menerima amplop pengumuman

Membiasakan Siswa di NTT Berpakaian Adat, Apa Mungkin?
Pos Kupang/Servan Mammilianus
Pelajar di Manggarai Barat mengenakan pakaian adat saat mengikuti karnaval belum lama ini. 

POS KUPANG.COM - Beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Kupang mewajibkan para siswa kelas tiga untuk memakai pakaian adat tenunan daerah-daerah di NTT saat mendengar dan mengambil amplop kelulusan ujian nasional (UN) tahun 2017.

Para siswa yang memakai kebaya dan jas serta pakaian adat motif daerah-daerah di NTT pada saat menerima amplop pengumuman kelulusan UN, antara lain SMA Negeri 8 Kupang dan SMA Katolik Giovanni Kupang.

Berpakaian adat tenunan daerah bertujuan agar para siswa yang menerima amplop kelulusan tidak melakukan kebiasaan yang selama ini dilakukan yaitu mencoret-coret pakaian seragam yang mereka pakai saat mendengar pengumuman hasil UN.

Seperti disampaikan oleh Kepala SMA Negeri 8 Kupang, Drs. Haris Akbar, Selasa (2/5/2017), bahwa siswa-siswi telah mengikuti UN wajib memakai pakaian adat saat mendengar pengumumam kelulusan UN untuk mengalihkan konsentrasi siswa yang selalu melakukan aksi mencoret pakaian seragam di jalanan seusai pengumuman hasil UN. Selain itu, untuk menyemarakkan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2017.

Tetapi lebih dari sekadar untuk menghindari corat-coret pakaian seragam seperti yang lazim terjadi selama ini, menurut Haris, mwajibkan para siswa kelas tiga untuk mengenakan pakaian adat saat mendengar pengumuman hasil UN akan menjadi tradisi di sekolahnya. Manajemen SMA N 8 Kupang ingin supaya ada perubahan karakater pada siswa-siswinya.

Berpakaian tenunan adat daerah dan berkebaya bagi para siswa yang menerima amplop pengumuman hasil UN tentu bukan untuk mencari sensasi, tetapi ada makna yang patut kita ambil dari cara yang dilakukan manajemen SMA Negeri 8 dan SMA Katolik Giovanni Kupang.

Pesan yang perlu dipetik dari dua sekolah itu --mungkin ada sekolah lainnya yang melakukan itu -- adalah membiasakan siswa-siswi, baik di tingkat sekolah dasar (SD) dan SMP maupun SMA/SMK untuk memakai pakaian tenunan adat daerah-daerah di NTT. Dengan cara itu, diharapkan para siswa tidak melupakan budayanya dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih saat ini.

Membiasakan siswa-siswi memakai pakaian adat tenunan daerah disarankan tidak hanya dilakukan saat mendengar pengumuman hasil UN dan peringatan Hardiknas, tetapi perlu menjadi tradisi di setiap sekolah pada hari tertentu dalam seminggu. Misalnya, pada setiap hari Senin atau hari lainya, para siswa wajib berpakaian adat tenunan daerah NTT.
Tujuannya selain agar para siswa tidak melupakan akar budayanya, juga bisa berdampak ekonomi bagi para pengusaha kecil yang menekuni usaha tenunan daerah-daerah di NTT. *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help