PosKupang/

Kisah Para Buruh Migran di Serawak Malaysia, Anda Bakal Tercengang (2)

Perusahaan rupanya memahami pula hal itu sehingga di tiap-tiap hunian disiapkan pula ruang doa, yang tidak lain adalah

Kisah Para Buruh Migran di Serawak Malaysia, Anda Bakal Tercengang (2)
ISTIMEWA
Barak yang menjadi tempat tinggal para TKI asal NTT di Serawak, Malaysia. 

Oleh: Rm. Herman P Panda
Staf Pengajar Seminari St. Mikhael Kupang

POS KUPANG.COM - Pada salah satu dinding kamar dalam barak (yang dipinjamkan pada saya untuk dipakai selama seminggu) terdapat tulisan berbunyi "Kejarlah duniamu, tetapi jangan lupa akhiratmu". Tulisan ini rupanya mengekspresikan suasana jiwa seorang TKI, bahwa sekalipun mereka begitu sibuk mengais ringgit, tetapi hidup akhirat tidak boleh diabaikan.

Perusahaan rupanya memahami pula hal itu sehingga di tiap-tiap hunian disiapkan pula ruang doa, yang tidak lain adalah salah satu kamar barak dengan ukuran sama seperti kamar tidur. Ada yang digunakan sebagai mushola bagi kaum muslim, ada pula yang digunakan untuk ruang doa bagi kaum kristiani (baik Katolik maupun Protestan). Ada sejumlah orang yang tekun berdoa, walaupun lebih banyak yang kurang peduli.

Baca: Kisah Para Buruh Migran di Serawak Malaysia, Anda Bakal Tercengang (1)

Kesulitan mereka adalah ketiadaan pemimpin agama yang membimbing sehingga mereka bagaikan domba-domba yang tak bergembala. Hal ini pertama-tama karena letak lokasi ladang tempat para TKI itu amat jauh dari kota. Pusat-pusat pelayanan keagamaan seperti masjid, gereja, hanya ada di kota-kota atau di desa-desa wilayah penduduk setempat. Sedangkan di ladang-ladang kelapa sawit tidak ada pusat pelayanan keagamaan yang resmi (seperti gereja stasi atau jemaat cabang).

Untuk itu kaum kristiani di Golden Star, baik Katolik maupun Protestan berinisiatif mengadakan ibadah setiap hari minggu, secara bergantian dipimpin oleh dua orang yang mereka percayai mampu memimpin ibadah, seorang dari Katolik dan seorang dari Protestan.

Baca: Korban Buruh Migran Terus Berjatuhan, Gubernur NTT Diminta Sadar

Dari pihak Katolik, yang biasa bertugas memimpin ibadah hari Minggu ataupun doa syukuran dalam berbagai kesempatan adalah Bapak Daniel Usboko (46 tahun). Daniel yang berasal dari Timor Tengah Selatan (TTS) itu, pernah menjadi ketua KUB (Komunitas Umat Basis) di kampungnya sebelum ke Malaysia. Dengan bekal pengalaman tersebut, dia beranikan diri memimpin ibadah dan membawakan kotbah di hadapan jemaah yang jumlahnya 30-an orang setiap hari Minggu.

Kenyataan bahwa hanya 30-an orang yang menghadiri ibadah hari Minggu padahal jumlah TKI kristiani di wilayah itu mencapai ribuan orang, menggambarkan bahwa hanya amat sedikit TKI yang memiliki kesadaran untuk "tidak lupa akhirat" di tengah-tengah kesibukan "mengejar dunia".

Tetapi karena ada kunjungan pastor dalam perayaan Paskah tahun 2017 ini, ibadah Pekan Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah dan Hari Raya Minggu Paskah) dihadiri oleh sekitar 500-700-an umat. Bekas kantin perusahaan berupa bangunan rumah panggung dari papan, dibenahi seadanya menjadi ruang ibadah.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help