Ini Berita Terpopuler: Problem Intoleransi hingga Dana Donasi Cak Budi

Temuan penelitian Kemendikbud di Salatiga dan Singkawang menunjukkan bahwa ada siswa yang menolak Ketua OSIS yg beda agama

Ini Berita Terpopuler: Problem Intoleransi hingga Dana Donasi Cak Budi
(Kompas/WAWAN H PRABOWO)
Warga melintas di dekat mural yang menyuarakan semangat kebersamaan dalam perbedaan di Jalan Kramat Jaya Baru, Jakarta Pusat, Senin (31/3/2014). Mural tersebut menjadi media bagi warga sekitar untuk menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah perbedaan suku, agama, warna kulit, dan jender. 

POS KUPANG.COM, JAKARTA -- Problem intoleransi terhadap keberagaman di Indonesia menjadi salah satu hal paling disorot oleh pembaca Kompas.com sepanjang Selasa (2/5/2017) kemarin.

Berita lain yang menarik pembaca kemarin antara lain tentang persoalan parkir meter seperti dikemukakan oleh Sandiaga Uno. Ada pula soal Fadli Zon yang melaporkan netizen yang dianggapnya mengancam keselamatannya.

Berikut ini lima berita terpopuler Kompas.com 2 Mei 2017.

1. Temuan Kemendikbud soal intoleransi di Sekolah

Intoleransi sejatinya bukan hal baru di Indonesia. Ironisnya, hal ini terjadi di dalam dunia pendidikan, bidang yang seharusnya memupuk rasa cinta akan keberagaman.

Temuan penelitian Kemendikbud di Salatiga dan Singkawang menunjukkan bahwa ada siswa yang menolak Ketua OSIS yang berbeda agama dengannya.

Dalam sebuah diskusi peringatan Hari Pendidikan Nasional oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta, kemarin, Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Henny mengungkapkan bahwa politik praktis tidak secara langsung mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Namun, lanjut Henny, hal itu berdampak terhadap kemerdekaan berpikir anak-anak.

2. Sandiaga dan problem parkir meter

Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Sandiaga Uno menilai sistem parkir meter tidak cocok diterapkan di Jakarta. Ia menganggap sistem parkir meter hanya cocok diterapkan di negara yang karakter masyarakatnya individualis. Hal yang disebut Sandi berbeda dari karakter masyarakat Indonesia.

"Kalau kita lihat di sini parkir kita dibantuin, mau belanja ada yang bantuin. Karena memang banyak lapangan pekerjaan yang dibutuhkan," kata Sandi.

Karena itu, ia menawarkan solusi baru berupa aplikasi "Jukir" yang dianggapnya lebih tepat ketimbang sistem parkir meter.

Halaman
123
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help