PosKupang/

DPRD Belu Minta Polisi Jangan Diamkan Kasus Perusakan Rumah Warga Derokfaturene

Kepada Pos Kupang, Senin (1/5/2017) malam, Stefanus menilai penanganan kasus ini terkesan tidak jelas karena sampai saat ini

DPRD Belu Minta Polisi Jangan Diamkan Kasus Perusakan Rumah Warga Derokfaturene
ilustrasi

Laporan Wartawan Pos Kupang, Edy Bau

POS KUPANG.COM, ATAMBUA -- Anggota DPRD Belu, Stefanus Mau, S.Fil mempertanyakan proses penyidikan yang dilakukan Polres Belu terkait kasus peusakan rumah milik warga Desa Derokfeturene, Kecamatan Tasifeto Barat (Tasbar) yang terjadi pasca Pilkades setempat pada oktober 2016 lalu.

Kepada Pos Kupang, Senin (1/5/2017) malam, Stefanus menilai penanganan kasus ini terkesan tidak jelas karena sampai saat ini belum ada tersangka yang ditahan polisi. Sementara korbannya sampai saat ini masih mengungsi ke rumah tetangga karena rumahnya masih dipasangi garis polisi

"Polisi jangan diamkan kasus ini. Kita mau tanya proses penanganannya sudah sampai mana? kasihan ini korban hidupnya terkatung-katung. karena belum bisa tinggal di rumah," ujarnya.

Dia berharap di bawah kepemimpinan Kapolres Belu yang baru ini, kasus itu bisa dituntaskan meskipun terduga pelaku adalah pegawai pada Pemkab Belu. "Saya dengar Kapolres Belu ini perwira berprestasi. Semoga kasus ini dituntaskan," katanya.

Seperti pernah diwartakan, Calon Kepala Desa (Kades) Derokfaturene, Kecamatan Tasifeto Barat (Tasbar), Kabupaten Belu, Marius Burak terpaksa harus tinggal menumpang di rumah tetangganya pasca kalah dalam pemilihan kepala desa di wilayah itu pada tanggal 13 Oktober 2016.

Marius bersama isteri dan 11 anaknya tinggal menumpang di rumah tetangganya sejak Kamis (27/10/2016) sampai saat ini.

Alasan keluarga ini pindah ke rumah tetangga bukan karena kalah taruhan atau rumahnya disita lantaran kalah pilkades. Mereka pindah lantaran rumahnya dirusaki sejumlah orang yang diduga memiliki dendam pilkades terhadapnya pada Kamis (27/10/2016) dini hari.

Kepada Pos Kupang di Atambua, Selasa (20/12/2016), Marius mengatakan, dirinya tidak mengetahui pasti motif pengrusakan rumahnya oleh puluhan warga termasuk dua PNS namun dari para pelaku yang diketahui, diduga karena faktor dendam Pilkades.

"Padahal saya ini sudah kalah. Bukan saja rumah saya yang dirusak. Ada rumah tetangga yang mendukung saya dalam pilkades juga dirusak. Saya sudah lapor polisi, biar proses mereka. Kami sudah hampir dua bulan tinggal di rumah tetangga. Mau pulang tapi tidak bisa karena rumah masih ada garis polisi. Kami berharap kasus ini secepatnya dituntaskan," katanya. (*)

Penulis: Frederikus Riyanto Bau
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help