Waspadai Tawaran Cepat Kaya

Tidak ada yang menggantikan kerja keras sebagai paspor kesuksesan. Tanyalah pada semua orang sukses, rata-rata dari mereka

Waspadai Tawaran Cepat Kaya
ilustrasi

POS KUPANG.COM - Meskipun berkali-kali terjadi kasus penipuan dengan berbagai modus, dan berkali-kali pula diberitakan baik melalui koran, televisi, online, dan media sosial, tetapi masih saja masyarakat tergiur dengan pelbagai penawaran untuk cepat menjadi kaya tanpa adanya kerja keras.

Padahal kerja keras adalah kunci untuk menuju kesuksesan. Tanpa adanya kerja keras, rasanya nonsense akan meraih sebuah kesuksesan dan kekayaan. Seperti yang diucapkan Johnny Carson, salah satu orang terkaya di dunia. "Kesuksesan saya dikembangkan dari kerja keras setiap harinya".

Tidak ada yang menggantikan kerja keras sebagai paspor kesuksesan. Tanyalah pada semua orang sukses, rata-rata dari mereka berada di posisi mereka kini karena sudah mengalami posisi terbawah, berjuang dari nol, dan tidak pernah menyerah meski dihadang ribuan tantangan. Ini bukan sebuah takdir, tetapi lebih kepada sebuah keputusan seseorang yang tidak lagi mau hidup di bawah garis kesusahan karena kondisinya yang sama sekali tidak menguntungkan.

Bukankah kita kerap mendengar pepatah; "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian". Ini menunjukkan bahwa hanya kerja keras-lah kunci untuk meraih kesuksesan. Tapi mengapa masyarakat masih tergiur dengan cara-cara instan untuk menjadi kaya? Mental yang ingin kaya dengan cepat menjadi salah satu faktornya. Ini harus diakui, sebagai penyakit masyarakat Indonesia yang paling akut. Berbagai contoh telah tersebar. Mulai dari kasus MLM, money game, sampai kasus berbau mistis "Kanjeng Dimas" di Jawa Timur.

Anehnya, meski sudah muncul berbagai kasus, tetapi iming-iming easy money, bonus berlimpah, dan cepat kaya sepertinya menjadi senjata paling mujarab dalam menjerat masyarakat. Padahal, fakta keberhasilannya belum juga tampak, tetapi dengan iming-iming cepat kaya dan memperoleh uang dengan cara mudah, hanya dengan ongkang-ongkang kaki saja, bisa membius masyarakat untuk berbondong-bondong bergabung.

Tak terkecuali yang terjadi di Flores. Iming-iming mendapatkan cincin emas Rp 1 miliar, bonus bulanan Rp 5 juta/bulan, hanya dengan mendaftar sebagai anggota sebuah LSM dan menyetor uang Rp 500.000.

Meskipun berbagai lembaga dan instansi pemerintah telah menyatakan, bahwa ini adalah modus penipuan, tetapi masyarakat masih tetap saja berbondong-bondong untuk mendaftar. Bank Indonesia (BI), Pemkab Sikka, dan berbagai bank pemerintah lain yang dicatut namanya oleh pemberi iming-iming ini sudah mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap modus penipuan.

Adalah hal yang harus dilakukan pemerintah dalam hal ini pihak berwenang Pemkab Sikka maupun OJK NTT, serta polisi untuk turun langsung ke lapangan. Jangan sampai menunggu adanya kerugian dan kegaduhan. Bukankah salah satu tugas lembaga ini adalah melakukan tindakan preventif untuk melindungi masyarakat? *

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help