PosKupang/

Oase Malaria dari Sikka, Inspirasi bagi Seluruh Masyarakat NTT

Hari malaria sedunia bertujuan untuk menggugah para pemimpin dan masyarakat dunia untuk berkomitmen dalam mengurangi

Oase Malaria dari Sikka, Inspirasi bagi Seluruh Masyarakat NTT
Net
Nyamuk penyebar penyakit malaria

Oleh: Ermi Ndoen
Anggota Forum Academia NTT

POS KUPANG.COM - Tanggal 25 April bukan hari biasa. Hari itu adalah Hari Malaria Sedunia. WHO secara "official" menetapkan hari ini sebagai salah satu dari delapan hari kampanye kesehatan penting bersama "Immunization Week (24-30 April)", Hari TB (24 Maret); Hari Kesehatan Sedunia (7 April); Hari Tembakau Sedunia (31 Mei); Hari Donor Darah Sedunia (14 Juni), Hari Hepatitis (28 Juli) dan Hari AIDS sedunia (1 Des).

Sepanjang sejarah umat manusia, Malaria, penyakit yang ditularkan lewat nyamuk Anopheles betina ini tecatat sebagai salah satu pembunuh terbesar umat manusia.
Nyawa yang direggut malaria hanya kalah dari pembunuhan yang dilakukan oleh semasa umat manusia.

Hari malaria sedunia bertujuan untuk menggugah para pemimpin dan masyarakat dunia untuk berkomitmen dalam mengurangi dan membebaskan dunia dari ancaman malaria. Setiap 25 April masyarakat dunia bergandengan tangan untuk memperingati ganasnya malaria. Hari yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terus berjuang melawan penyakit pembunuh ini. Bagi kebanyakan orang di daerah bebas malaria; saat ini dalam satu hari hidupnya mereka diberi kesempatan untuk merenungkan ganasnya malaria.

Bagi masyarakat NTT dan di daerah endemis malaria lainnya. "Setiap hari adalah hari malaria". Malaria terus merongrong kehidupan kita setiaphari. Selalu ada satu kehidupan yang direnggutnya. Ada anak tercinta yang dipisahkan dari orang tuanya. Malaria juga dapat memisahkan hidup ibu atau ayah yang penuh kasih dari keluarga tercinta.

WHO melaporkan 212 juta kasus malaria di tahun 2015 di seluruh dunia; merenggut sedikitnya 429 ribu nyawa, terutama di kawasan Afrika. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melaporkan kasus malaria tertinggi di KawasanTimur Indonesia yaitu Papua, Papua Barat, NTT, Maluku dan Maluku Utara. Sekitar 12 juta penduduk di kawasan ini masih dijajah malaria.

Data Dinas Kesehatan Provinsi NTT memperlihatkan, insiden malaria sudah turun sebesar 70% dalam sepuluh tahun terakhir, tapi penyakit ini masih menduduki 10 besar kasus penyakit di fasilitas kesehatan di NTT. Jumlah penduduk NTT "hanya" 2% total penduduk Indonesia; tapi NTT menyumbang hampir 20% total kasus malaria di Indonesia.

Kasus malaria di NTT tahun 2015 sebanyak 279 ribuan; atau sekitar 7 kasus per 1.000 orang. Di tahun 2016; menurun menjadi sekitar 5 kasus per 1.000 orang. Namun dilihat secara kabupaten, Lembata merupakan kabupaten dengan angka malaria tertinggi di NTT. Di Lembata di antara 1.000 penduduk, terdapat sekitar 77 penderita malaria. Bahkan di beberapa puskesmas, kasus malaria mencapai 130 per 1.000 penduduk. Sungguh fantastis untuk kabupaten dengan jumlah penduduk sebanyak 132.171 orang.

Selain Lembata, pulau Sumba adalah penyumbang malaria tertinggi kedua di NTT. Secara total, kasus malaria di Pulau Sumba sebesar 10.824, bahkan melebihi Lembata. Namun secara rerata, insidennya sebesar 14 per 1000 orang. Alor berada di urutan ketiga diikuti olehSabu, Timor, Flores dan Rote Ndao. Secara kabupaten, Sikka, TTU, Manggarai dan Kota Kupang sudah memiliki kasus malaria yang rendah, kurang dari satu kasus per 1.000 penduduk.

Berita gembira dalam tentang keberhasilan program malaria di NTT datang dari Sikka. Kabupaten ini merupakan satu-satunya kabupaten di kawasan Indonesia Timur dan untuk pertama kalinya mendapat penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI. Sikka dalam tigatahun terakhir berhasil menurunkan 75% kasus malarianya hingga di bawah 1 per 1.000 orang. Suatu pencapaian yang luar biasa. Pertanyaannya, apa yang sudah dibuat Sikka?

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help