Mengenang Sjahrir dan Politik Kemanusiaannya, Inilah Warisannya

Politik humanis ala Sjahrir ini adalah gambaran penghayatannya yang kuat terhadap pertanyaan

Mengenang Sjahrir dan Politik Kemanusiaannya, Inilah Warisannya
ISTIMEWA
Sutan Sjahrir 

Oleh: Erli Mali
Anggota GMKI Cabang Kupang

POS KUPANG.COM - Sutan Sjahrir, perdana menteri Indonesia yang pertama, ialah salah seorang negarawan langka yang pernah dimiliki bangsa ini. Walau riwayat politiknya pasca proklamasi kemerdekaan cukup singkat, namun jejaknya meninggalkan warisan politik yang sangat berharga untuk dikenang sekaligus dipelajari dan digelorakan kembali dalam zaman dengan arus politik yang mengecewakan ini. Bila setiap elite politik adalah personifikasi dari ide politik yang dianutnya, maka Sjahrir adalah prototipe dari ide politik untuk kemanusiaan.

Politik humanis ala Sjahrir ini adalah gambaran penghayatannya yang kuat terhadap pertanyaan, "Apakah tujuan politik itu sebenarnya?" Negarawan dan pemikir ini melalui aktivitas politik dan pengabdiannya pada bangsa ini telah menjawab dengan gamblang bahwa politik adalah untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.

Baginya, politik haruslah mengangkat harkat dan martabat manusia setinggi-tingginya, manusia adalah pusat dari aktivitas politik. Ide ini dapat ditelusuri sepanjang karier politiknya, sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan. Sebelum proklamasi pada tahun 1932 bersama Bung Hatta ia mendirikan partai Pendidikan Nasional Indonesia, lalu sesudah proklamasi ia sendiri mendirikan Partai Sosialis Indonesia yang kemudian dibubarkan oleh Soekarno pada tahun 1960. Kedua partai ini bukanlah partai massa, melainkan partai kader. Tujuannya jelas yakni untuk mendidik kader-kader muda calon pemimpin bangsa. Memilih jalan mendirikan partai kader menunjukkan sisinya yang humanis, ia tak tega memperlakukan massa sebagai obyek politik.

Kala menjabat sebagai perdana menteri pada tahun1945 hingga1947, ia menghadapi tantangan betapa sulitnya mengawal sebuah negara yang baru merdeka dengan situasi politik yang masih labil. Agresi militer Belanda yang mengancam kedaulatan Indonesia dihadapinya dengan pikiran terbuka dan rasional, Sjahrir memilih jalan diplomasi ketimbang mobilisasi massa dan perang. Lepas dari berhasil tidaknya diplomasi tesebut, Sjahrir rupanya ingin menimbulkan kesan di mata dunia internasional bahwa Indonesia bukanlah bangsa barbar yang hanya suka berperang. Ia ingin Indonesia dilihat sebagai bangsa yang layak menjadi negara modern dan matang dalam berpolitik.

Di samping aktivitas politiknya, sebagai seorang pribadi menurut Sejarawan Taufik Abdullah, Sjahrir menunjukkan kecenderungannya sebagai seorang pemikir. Dua karya monumentalnya adalah "Renungan Indonesia" dan "Perjuangan Kita". Yang pertama ditulisnya sekitar tahun 1934-1938, sedangkan yang kedua terbit pasca proklamasi pada November 1945.

Kedua karyanya ini merefleksikan pemikirannya yang senantiasa gelisah dalam membaca pergolakan masyarakat dan bangsa. Dalam Renungan Indonesia ia mengungkapkan sebuah pertanyaan filosofis "mengapa aku mencintai bangsa ini" ia menjawabnya sendiri "mungkin karena bangsa ini selalu menderita". Karena itu, sampai batas-batas tertentu Sjahrir dapat disebut sebagai a man of think and a man of actions.Ia berpikir lalu bertindak.

Bila kita tarik garis penghubung antara pemikiran Sjahrir dan budaya politik masa kini rasanya akan sulit menemukan simpulnya. Adakah elite politik masa kini yang masih memikirkan tujuan politik untuk kemanusiaan? Soal "apa sebenarnya tujuan politik itu" kini dijawab begitu absurd hanya sebagai ajang pertaruhan dan perebutan kekuasaan. Ada gejala bahwa kemanusiaan justru dieksploitasi sedemikian rupa untuk tujuan politik sesaat. Bahkan wilayah privat manusia seperti agama dapat dimanipulasi demi mencapai kekuasaan.

Dengan kata lain, politik telah menelanjangi kemanusiaan kita sehingga yang ditampilkan justru sisi kebinatangan kita. Kalau begitu politik telah gagal mengangkat harkat dan martabat manusia.
Apa sebabnya zaman ini menampakkan atmosfir politik yang tak menyehatkan, korupsi merajalela, hukum tak lagi jadi panglima yang menyebabkan krisis kepercayaan kepada pejabat publik?

Apa sebabnya zaman ini kita amat sulit menemukan sosok seperti Sjahrir disamping Hatta, Natsir dan beberapa tokoh lain yang begitu elegan dan bersahaja dalam politik? Saya tidak ingin menjawab pertanyaan ini karena memang amat sulit sehingga mungkin akan salah kaprah. Tetapi saya ingin mengajukan alternatif pikiran untuk direnungkan. Bila kita amati, kini amat jarang kita temukan perpaduan pemikir-intelektual sekaligus politisi dalam satu sosok. Tetapi apa hubungannya? Jelas ada hubungan yang paralel antara berpikir dalam artian perenungan yang filosofis tentang kondisi masyarakat dengan kemampuan menjalankan tugas-tugas politik. Dalam sosok Sjahrir hal ini membuat sensivitas kemanusiaannya selalu terasah dan terjaga untuk memihak kepada yang lemah, kepada rakyat.

Jadi apakah elite politik masa kini bukanlah sosok pemikir atau politisi intelektual yang tidak merenungkan nasib rakyatnya? Tentu pertanyaan ini sulit dijawab karena kini kita tidak lagi menemukan elite politik yang gemar mengkomunikasikan pikiran dan perenungannya melalui tulisan minimal di media massa. Politisi kita barangkali terlalu sibuk menjadi antek partai hingga lupa merawat pikiran lalu pada akhirnya sisi kemanusiaan mereka menjadi tumpul. Benarlah kata Schiller seorang penyair Jerman bahwa "sebuah masa yang besar telah lahir, tetapi ia menemukan generasi yang kerdil".*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved