PosKupang/
Home »

Video

VIDEO

VIDEO: Sastrawan dan Sosiolog Apresiasi Kartini Penjual Bawang di Pasar Kasih

Sastrawan Mesra Pelandou dan Sosiolog Soraya Balkis Tanof memuji perjuangan para penjual bawang di Pasar Kasih Naikoten 1 Kupang, Adolfina dan Oma Ina

Laporan Wartawan Pos-Kupang, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sastrawan Mesra Pelandou dan Sosiolog Soraya Balkis Tanof memuji perjuangan para penjual bawang di Pasar Kasih Naikoten 1 Kupang, Adolfina dan Oma Ina sebagai seorang Kartini.

"Ketika ada rasa tertekan dalam keluarganya, Adolfina bisa menjawab itu dengan melakukan kegiatan positif, mandiri, bukan dengan cara tidak bagus. Ini keren dan hebat. Kalau dia cengeng dia bisa saja minta uang kepada anaknya, tapi tidak, dia tetap bekerja. Oma Adolfina ini adalah Kartini jaman sekarang. Ketika perempuan mampu menaklukan hidup dengan keberadaannya dia adalah perempuan yang hebat, itulah Kartini jaman sekarang," kata Mesra, Jumat (21/4/2017).

Soraya mengapresiasi perjuangan Oma Ina dan perempuan penjual sayur lainnya di pasar Inpres.  "Dengan menjadi penjual sayur, saya rasakan kalau Ir. Soekarno menulis tentang Sarina, pengasuhnya yang adalah orang kecil. Maka saya hari ini saya belajar tentang pesan Kartini pada orang kecil seperti oma Ina," kata Soraya.  

Soraya mengajak semua kaum perempuan untuk bersatu dan bisa memperingati dan menyampaikan pesan perjuangan Kartini dengan talenta masing-masing.

"Hendaknya kita bisa melakukan emansipasi rasa dan solidaritas rasa kepada sesama kita. Ketika hari ini NTT terkenal menjadi propinsi termiskin ketiga maka mari kita bergandengan tangan untuk mengatasinya secara bersama-sama. Mari kita berjuang untuk meminimalis kerja paksa di luar negeri, human traffikcing. Mari kita mengatasi kasus korupsi, dan berbagai masalah sosial lainnya sesuai dengan peran kita masing-masing," ajak Soraya.

Menurut Soraya, jika pemerintah bicara tentang kesetaraaan dan keadilan gender namun Oma Ina dan rekannya belum mendapat keadilan gender. Karena hingga saat ini mereka masih hanya menjadi objek dari pembangunan bukan subjek pelaku dari pembangunan.

"Pemerintah harusnya bisa mendengar jeritan hati mereka, apa yang mereka butuhkan untuk bisa meningkatkan perekonomian keluarga," kata Soraya.

Grace Gracella dan Lanny Koroh mengatakan, tujuan besar dari kegiatan ini adalah Perempuan dalam emansipasi. "Kami mengangkat tema Per(T)empu(R)an, solidaritas rasa dan emansipasi rasa. Maknanya dalam kata Per(T)empu(R)an itu saya mau melihat situasi hari ini. Bahwa ketika orang memaknai Hari Kartini dengan mencontohi Kartini melalui simbol konde atau kebayanya sebagaimana dibuat oleh pasar kapitalis dengan acara Fashion Show atau Talk Show, di dalam gedung-gedung mewah. Menurut saya, sebenarnya cara-cara itu tidak menyerap spirit perjuangan Kartini," kata Grace dibenarkan Lanny. (*)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help