PosKupang/

Diusir Camat, Suku Beti Lapor Bupati Titu Eki

Suku Beti di Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, mengadu dan melapor ke Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, Rabu (19/4/2017) siang.

Diusir Camat, Suku Beti Lapor Bupati Titu Eki
PK/ENOL AMARAYA
Bupati Kupang, Ayub Titu Eki 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Julius Akoit

POS KUPANG.COM, OELAMASI -- Suku Beti di Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, mengadu dan melapor ke Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, Rabu (19/4/2017) siang.

Pasalnya Camat Amabi Oefeto Timur, Yesaya Pae, S.H, mengusir 52 KK yang mendiami tanah hak ulayatnya yang diklaim camat sebagai tanah inventaris Pemda Kupang.

"Camat sudah usir kami 52 KK Suku Beti. Dia kasih batas waktu sampai tanggal 24 April 2017 yang akan datang. Dia juga ancam kalau terjadi sesuatu akan menjadi resiko dan tanggungjawab kami," jelas Imanuel Tampani dan Inocentius Naitio, yang bertindak sebagi juru bicara Suku Beti, saat ditemui di ruang tunggu Bupati Kupang, Rabu (19/4/2017) siang.

Karena itu, lanjut Imanuel, warga Suku Beti mengutus 8 orang untuk bertemu dan melapor persoalan tersebut ke Bupati Kupang, Ayub Titu Eki.

Delapan orang utusan Suku Beti adalah Imanuel Beti, Ny. Sofia Beti, Filmon Beti, Nikodemus Manao, Izak Malaimani, Agustinus Nubatonis, Imanuel Tampani dan Inocentius Naitao.

Tentang sebab-musabab mereka diusir camat, Imanuel menuturkan pada tahun 2002 lalu Pemkab Kupang membangun beberapa unit rumah dinas bagi staf dan camat di Kawasan Oehaen, Desa Enolanan.

"Tidak ada serah terima tanah, tidak ada pelepasan hak dari Suku Beti. Tiba-tiba sudah ada sertifikat tanah atas nama Pemkab Kupang. Hal ini terjadi saat masa pemerintahan mantan camat Semuel Pakeren.

Karena kesal, lanjutnya, Suku Beti memerintahkan beberapa keluarganya untuk membuat ladang jagung, kebun sayur, kelapa, ubi dan pepaya serta pisang di lahan tersebut.

Sementara itu Inocentius Naitio, menjelaskan tanah hak ulayat tidak bisa diserahkan atau pelepasan hak atas nama pribadi. Sebab tanah hak ulayat memiliki nilai komunal, milik bersama anggota suku.

"Yang jadi pertanyaan, siapa yang melakukan pelepasan hak tanah suku Beti di Amabi Oefeto Timur, khusus di Kawasan Oehaen? Semua anggota suku mengatakan bahkan bersumpah tidak pernah menyerahkan tanah suku ke Pemkab Kupang," ungkap Inocentius.

Saat bertemu utusan Suku Beti, Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, meminta warga datang bertemu dengan dirinya pada tanggal 25 April 2017 yang akan datang. Alasannya ia sedang sibuk dan belum mempelajari kasus tanah tersebut.

Camat Amabi Oefeto Timur, Yesaya Pae, S.H, belum berhasil dikonfirmasi. Telepon genggamnya berada di luar jangkauan saat dihubungi Pos Kupang.*

Penulis: Julius Akoit
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help