Ketika Alam Menitikkan Air Mata, Lalu Apa yang Harus Kita Buat?

Hubungan resiprokal antara alam dan manusia telah berlangsung lama sejak ribuan tahun lalu.

Ketika Alam Menitikkan Air Mata, Lalu Apa yang Harus Kita Buat?
POS KUPANG/ISTIMEWA
Banjir bandang yang melanda Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur. Selasa (4/4/2017) 

Oleh: Mario Djegho*
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana Kupang

POS KUPANG.COM - Nusantara kembali berkabung di segala penjuru tanah air. Ganasnya terjangan banjir bandang menghanyutkan begitu banyak material, harta, bahkan korban jiwa yang menyisakan kepedihan yang begitu dalam.

Selain itu, terkaman longsor di beberapa daerah menambah kewaspadaan anak bangsa akan keberlangsungan hidupnya ketika nyawa menjadi taruhan. Pertiwi seolah mengamuk dan tanah air seakan meradang tanpa pandang bulu walau akan meninggalkan begitu banyak luka. Entah apa yang sedang terjadi, tragedi ini bukan sebuah kebetulan. Inilah tanda nyata bahwa alam sedang menabuh genderang perang dengan manusia. Mungkinkah seruan perlawanan ini terjadi ketika alam menitikkan air matanya?

Hubungan resiprokal antara alam dan manusia telah berlangsung lama sejak ribuan tahun lalu. Alam menjadi pijakan manusia dalam berpikir dan bertindak guna mengambil kesimpulan. Hal tersebut menyebabkan sebuah ketergantungan yang saling mempengaruhi antara alam dan manusia.

Manusia menjadikan alam sebagai media atau petunjuk untuk bertahan hidup. Sebaliknya, alam membutuhkan manusia untuk melestarikan dirinya yang pasif agar senantiasa ada untuk mengiringi langkah manusia dalam kehidupannya.

Hubungan yang mendalam antara manusia dan alam melahirkan realitas baru tentang sebuah hubungan dan kesadaran spiritual yang oleh Arne Naess disebut deep ecology. Deep ecology atau ekologi dalam merupakan sebuah konsep yang mendeskripsikan hubungan antara manusia dan lingkungan alam yang tidak dapat dipisahkan.

Perkembangan kehidupan manusia selalu berjalan bersama dengan alam sekitarnya. Perubahan zaman selalu berawal dari eksistensi dan kontribusi alam sebagai faktor pendukung terjadinya kemajuan dalam kehidupan manusia. Manusia mengenal budaya ketika ia telah bercocok tanam dan alam menjadi bagian penting ketika manusia mulai memanfaatkannya untuk bertahan hidup ketimbang berburu.

Selo Soemardjan mendefinisikan kata budaya secara etimologis dari bahasa Inggris "culture" yang berasal dari akar kata Latin "collere" yang berarti mengolah alam atau bercocok tanam. Kegiatan bercocok tanam menjadi awal dari sejarah kemajuan peradaban manusia karena alam selalu memberikan inspirasi dan motivasi kepada manusia untuk berubah dan berinovasi. Oleh karena itu, manusia, alam dan kemajuan peradaban berada dalam satu garis lurus yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Artinya; jika salah satu aspek tersangkut atau tidak diperhatikan, maka semua aspek akan saling bertabrakan karena ketiganya selalu berjalan bersama seperti sebuah harmoni.

Dalam cakupan internasional, masalah lingkungan hidup telah menjadi sebuah isu yang ramai diperbincangkan. Perubahan iklim, pemanasan global atau "global warming", banjir, longsor, dan bencana alam lainnya menjadi problematika khusus yang harus dicari jalan keluarnya.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help