VIDEO

VIDEO: Emansipasi Perempuan Bukan Ajang Lomba

Emansipasi perempuan bukan ajang perlombaan antara laki-laki dan perempuan.

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Novemy Leo

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Emansipasi perempuan bukan ajang perlombaan antara laki-laki dan perempuan. Emansipasi adalah sebuah kebebasan dan bagaimana melepaskan diri dari otoritas patrianalistik, kebodohan, penindasan dan diskriminasi serta ketertindasan.

Psikolog Erni Raster Klau, S.psi, MA, mengatakan hal itu kepada puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam persatuan istri-istri karyawan/ti (PIKK) PT PLN (Persero) Sektor Kupang, di Kantor PLN Sektor Kupang, Sabtu (8/4/2017) sore.  Erni hadir sebagai pembicara dalam seminar bertemakan Perjuangan RA Kartini mengisnpirasi PIKK sektor NTT untuk mandiri, inovasi dan beba sdrai segala bentuk kekerasan serta diskriminasi, memperingati hari  RA Kartini tanggal 21 April mendatang.

"Emansipasi diperjuangkan oleh perempuan bukan bertujuan untuk mengalahkan laki laki dan bukan untuk menghilangkan kodratnya sebagai perempuan. Emansipasi diperjuangkan agar perempuan menjadi setara dengan laki-laki sesuai fungsi dan perannya dalam kehidupan," kata Erni.

Menurut Erni, perjuangan RA Katini sudah banyak terlupakan oleh perempuan di Indonesia. Karenanya, prjuangan-perjuangan kartni itu harus terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat. Dalam seminar itu, Erni membedah perjuangan RA Kartini dan juga kisah Siti Nurbaya yang dikawin paksa dengan Datuk Maringgih oleh orangtuanya.

Dari dua cerita itu, Erni berharap agar pengurus dan anggota PIKK bisa mulai mengimplementasikan perjuangan kartini dalam kehidupan keseharian.

"Kita harus sadari bahwa emansipasi itu bukan ajang perlombaan sehingga tidak ada lawan, tidak ada kalah dan memang. Mari kita sadari bahwa lawannya perempuan itu bukan laki-laki tapi bagaimana perempuan bisa melawan dirinya sendiri untuk bisa mewujudkan emansipasi dalam kehidupannya. Dan harus disadari bahwa perempuan butuh sosok lain yakni laki-laki untuk saling melengkapi, begitupun laki-laki membutuhkan sosok perempuan untuk bisa melengkapi kehidupannya," kata Errni.

Menurut Erni, meski hidup dalam budaya patriaki, namun ada hal-hal yang harus bisa perempuan kirtisi agar generasi ke depan tidak dilemahkan dengan paham-paham yang keliru soal emansipasi dan kesetaraan perempuan.

"Paham kesetaraan bukan lagi pahan barat tapi paham yang harus kita implementasikan dalam kehidupan kita, kehidupan keluarga. Emansipasi itu bukan berarti perempuan harus melawan laki-laki. Karena tidak ada perlombaan disini. Tapi bagaimana emansipasi diperjuangkan agar perempuan itu bisa setara dalan peran, fungsi dan kedudukan. Emansipasi juga tidak ada kaitannya dengan kodrat. Perempuan akan tetap menjadi perempuan sesuai kodratnya, seperti hamil, menyusui dan melahirkan," kata Erni.

Erni juga berharap PIKK bisa merubah sikap dan perlakukan terhadap anggota keluarga di rumah. Karena biasanya tanpa disadari, sebagai ibu dan istri, perempuan membuat 'aturan' yang justru mendiskriminasikan anak laki-laki dan perempuan.  

"Jangan membeda-bedakan perlakuan terhadap anak perempuan dan laki-laki, jangan membatasi pergaulan mereka. Biarkan anak laki-laki bermain dengan anak perempuan. Agar anak laki-laki bisa memahami perasaan perempuan dan tidak menjadi agresi. Dan agar anak perempuan bisa belajar berkompetisi dari anak laki-laki," pesan Erni. (*)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved