PosKupang/

Bahasa Politik dalam Pilgub NTT, Begini Cara Memahaminya

Di sini bahasa, mau tidak mau, digunakan untuk menghasilkan karya-karya sastra baik prosa maupun puisi.

Bahasa Politik dalam Pilgub NTT, Begini Cara Memahaminya
NET
ilustrasi 

Oleh: Drs. Willem B Berybe
Mantan guru, peminat bahasa

POS KUPANG.COM - Politik tanpa bahasa adalah muskil. Bahasa tanpa politik pun sama muskilnya. Sesuatu yang sulit dipahami (muskil), sesuatu yang pelik, bila kedua fenomena interaksi sosial (politik dan bahasa) ini tidak berada dalam satu perahu. Rene Welleck dan Austin Warren, pengamat sastra universal, menegaskan dalam buku Teori Sastra bahwa sastra antara lain berkaitan dengan sistem politik sebagai ungkapan masyarakat.

Di sini bahasa, mau tidak mau, digunakan untuk menghasilkan karya-karya sastra baik prosa maupun puisi.

Jauh sebelum Indonesia merdeka (28 Oktober 1928), bahasa, dalam hal ini Bahasa Indonesia telah menjadi instrumen politik bangsa untuk mulai menggelorakan semangat pergerakan nasionalisme dari Sabang sampaiMerauke.

"Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia" (butir ketiga sumpah pemuda). Hanya dengan satu kalimat yang terdiridari sebelas kata bahasa mampu memberi daya terjang yang sangat dahsyat.Rakyat Indonesia dengan sekuat tenaga melaksanakan amanat `menjunjung' bahasa persatuan itu dan berjuang meraih cita-cita bangsa yaitu Indonesia merdeka (17/8/1945).Kata-kata yang diucapkan Soekarno dalam masa perjuangan seringkali bermakn apolitis.

Karena bahasa dan politik tidak dapat dipisahkan, menarik apa yang ditulis Ignas Kleden dalam Kompas, 1/1/2000 tentang definisi politik. Ia mengambil referensi teori Bismarck, politik adalah the art of the possible (seni kemungkinan).

Bahwa kemungkinan-kemungkinan itu bisa terjadi dalam politik. Di lain pihak, politik selalu memberi ruang untuk kemungkinan-kemungkinan. Lalu Kleden menyodorkan teori filsuf Aristotes bahwa politik adalah dunia kemungkinan (the world of the possible). Teori-teori ini dimaksudkan Kleden menyasar ke prosa dan puisi dalam politik Indonesia. Jadi di sini bahasa, mau tidak mau, ikut berperan.

Dalam teori ilmu komunikasi terdapat dua pemeran utama ketika sebuah proses berkomunikasi berlangsung yaitu orang yang melakukan kegiatan penyampaian informasi/pesan dengan menggunakan bahasa dan pihak lain, si penerima informasi/pesan. Masing-masing disebut komunikator dan komunikan.

Ilmu bahasa (linguistik) juga berbicara tentang hal yang sama. Ada tiga komponen utama dalam bahasa yaitu structure ofbentuk), structure of content (isi), dan vocabulary, kosa kata dan artinya (Gleason 1961). Komponen terakhir memiliki relasi antara bentuk dan isi yang sangat signifikan dan bersifat transient, tidak permanen, sesaat.

Agar proses berkomunikasi dapat berlangsung efektif berdasarkan teori linguistik diperlukan enam unsur yaitu code (sinyal/simbol), channel (medium, saluran), process of encoding (proses operasional sinyal), encoder (orang atau alat yang melakukan proses encoding), process of decoding (proses berlangsungnya pembicaraan), decoder (orang/alat yang menjalankan proses decoding).

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help