Inilah Makna Pendidikan Holistik dan Revolusi Mental Pelajar

Ketika berpredikat sebagai calon presiden beberapa waktu lalu, Jokowi sangat berkoar-koar mengumandangkan gagasan brilian

Inilah Makna Pendidikan Holistik dan Revolusi Mental Pelajar
istimewa
Ilustrasi

Oleh: Jean Loustar Jewadut
Tinggal di Ritapiret, Maumere

POS KUPANG.COM - Apa yang terbersit dalam benak kita ketika membaca frase revolusi mental? Apakah kita teringat akan sosok Joko Widodo? Hampir pasti jawabannya "ya". Jawaban afirmatif ini patut dibenarkan karena untuk konteks Indonesia dewasa ini berbicara tentang revolusi mental tidak dapat dilepaspisahkan dari sosok Jokowi.

Ketika berpredikat sebagai calon presiden beberapa waktu lalu, Jokowi sangat berkoar-koar mengumandangkan gagasan brilian tentang revolusi mental. Hemat Jokowi, dinamika dan progresivitas sebuah bangsa akan terealisasikan, jika setiap individu memurnikan motivasi dan menyatukan tekad untuk merevolusi mental.

Nampaknya, publik mengamini dan mengakui kredibilitas gagasan revolusi mental ala Jokowi dan kemudian mempercayakannya menjadi orang nomor satu RI.
Intensi fundamental program revolusi mental ala Jokowi dewasa ini adalah mengubah cara pandang, pola pikir, sikap dan perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemoderenan guna mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian (Tempo, 26 Oktober-1 NoVember 2015, p. 123).

Hemat penulis, untuk merealisasikan program revolusi mental, maka pembicaraan seputar pendidikan adalah sebuah kebutuhan yang urgen. Menjadi urgen karena sampai sekarang pendidikan masih diakui perannya sebagai sarana pendukung perubahan cara pandang, pola pikir, sikap dan perilaku seseorang.

Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana yang membuat seseorang dengan tahu dan mau bertindak sebagai manusia (hominisasi), tetapi lebih pada taraf pemanusiaan manusia (humanisasi). Jelas pendidikan sebagai sarana humanisasi berperan untuk menumbuhkembangkan mental yang baik dalam diri setiap pelajar. Jika demikian, tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan pendidikan adalah basis revolusi mental.

Di tengah diskursus tentang pentingnya pendidikan sebagai basis revolusi mental muncul sebuah ekstrim baru. Pendidikan yang diakui kemampuannya dalam menentukan dinamika dan progresivitas kehidupan menampakkan gejala destruktif.
Banyak orang mulai pesimis terhadap pendidikan sebagai sarana humanisasi.

Pramoedya Ananta Toer secara terang benderang meluapkan rasa pesimisnya terhadap pendidikan dengan mengatakan "jangan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pada dasarnya".

Pernyataan Pramoedya Ananta Toer patut dibenarkan tatkala dikonfrontasikan dengan mentalitas pelajar zaman sekarang yang disinyalir sebagai produk dari pendidikan yang telah kehilangan orientasi. Sebut saja, virus mental instan, balapan liar, tawuran antarpelajar, penggunaan narkoba dan obat-obat terlarang, praktik seks bebas, vandalisme dan litani kejahatan lainnya yang justru dilakonkan kaum terpelajar.

Berhadapan dengan realitas mental zaman sekarang, kita bisa berasumsi bahwa ternyata ada yang salah dengan praktik pendidikan kita selama ini. Rupa-rupanya praktik pendidikan kita hanya mampu menghasilkan lulusan yang kaya pengetahuan, tetapi miskin dalam kepemilikan mental yang baik.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved