PosKupang/

Virgin di Manakah Perawanmu? Inilah yang Dikatakan Santisima Gama dalam Puisinya

Buku antologi puisi setebal 87 halaman ini memuat 50 judul puisi Santisima dengan beragam tema, antara lain, tema

Virgin di Manakah Perawanmu? Inilah yang Dikatakan Santisima Gama dalam Puisinya
Shutterstock
Ilustrasi 

(Membaca Puisi Santisima Gama)

Oleh:Yohanes Sehandi
Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende

Virgin, itulah mahkota para gadis
Tapi, Virgin sahabatku bermandi duka
Janji pada kekasih musnah terkubur aib
Meratapi peluh tubuh karena ternoda
Oleh lelaki biadab buta moral
(Santisima Gama)

POS KUPANG.COM - Puisi yang dikutip di atas merupakan salah satu bait puisi penyair Santisima Gama dalam buku antologi puisi berjudul vulgar dan menantang: Virgin, di Manakah Perawanmu? Buku ini diterbitkan Penerbit Karmelindo, Malang tahun 2012. Diberi Pengantar oleh Adrianus Pristio, O.Carm, dengan endorsemen oleh Lusia Adinda Lebu Raya, Maria Matildis Banda dan Hengky Ola Sura.

Buku antologi puisi setebal 87 halaman ini memuat 50 judul puisi Santisima dengan beragam tema, antara lain, tema sosial, politik, ideologi, hukum, moral, dan religius. Di bagian akhir setiap puisi dicantumkan peristiwa/momen tertentu, tempat, dan/atau tanggal kelahiran atau penulisan puisi.Seolah menunjukkan kepada pembaca bahwa peristiwa itulah yang memicu penyair untuk menulis puisi tersebut.

Sejarah kelahiran sebuah puisi akhirnya bisa dilacak. Kita jadinya memaklumi bahwa puisi-puisi dalam buku antologi ini adalah potret realitas sosial yang tercerap panyair. Santisima adalah contoh penyair NTT yang terlibat dalam realitas sosial masyarakat lingkungannya.

Dari sekian banyak tema yang diangkat Santisima, tema penindasan terhadap harkat dan martabat kaum perempuan cukup menarik untuk disimak dan dibahas.Tema itu diangkat dalam beberapa puisi yang tentu bertolak dari kasus atau realitas sosial yang terjadi di Provinsi NTT atau di Indonesia umumnya, seperti kasus pemerkosaan, kasus perdagangan orang (human trafficking),kasus eksekusi TKI Ruyati, kasusTKI Nirmala Bonat dan Darsem, dan kasus penindasan yang lain.

Terhadap kasus perdagangan orang, penyair Santisima mengangkatnya dalam puisi "Pahlawan Devisa" (halaman 19). Santisima menulis: //Bukan pahlawan tanpa tanda jasa/ Ada kiasan sastra terpampang di pundak/ Engkaulah pahlawan devisa memikul penat/ Mengais rezeki di negeri orang cerdik/ Menuai badai dalam bara nestapa//Dari Nirmala Bonat hingga Ruyati/ Lagi-lagi kaum hawa teraniaya/ Tragedi Nirmala menjadi kisah awal/ Tragedi Ruyati menjadi harapan terakhir/ Hapus kekerasan terhadap insan lemah//.

Sebagaimana puisi realitas sosial yang lain, lewat puisi Santisima melakukan protes sosial: //Penguasa bangsaku jangan berdiam diri/ Pikirkan tangan-tangan para penjual tenaga/ Mereka tak punya daya di tanah seberang/ Lari bersembunyi tanpa kemah perlindungan/ Ini bukan salah mereka!//.

Gugatan lain Santisima dalam bait keempat puisi "Perempuan Perkasa" (halaman 56) berbunyi: //Kuberlindung dalam rahim ibu pertiwi/ Mengetuk hati para pejabat berdasi/ Secuil harapan berlabuh di pundak bangsa/ Bebaskan diriku dari cambuk belenggu maut/ Kutatap Indonesiaku masih punya hati nurani/. Terhadap gadis belia korban kekerasan seksual yang dilukiskan dalam puisi "Virgin, di Manakah Perawanmu?" (halaman 38) Santisima memberi hiburan meski dalam kepasrahan: //Maafkan aku Virgin/ Tak menemanimu kala itu/Aku tahu kau merasa terpuruk/ Menatap impian tanpa senyum/ Namun, tegarlah bersamaku/ Meniti hari esok lebih cerah//.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help