PosKupang/

Ruang Imajinasi dan Imajinasi Ruang Kota, Apa Maksudnya?

Memasuki sebuah tempat bukanlah dimaknai secara fisik saja tetapi secara sosial. Karena itu, blusukan selalu bertemu orang

Ruang Imajinasi dan Imajinasi Ruang Kota, Apa Maksudnya?
POS KUPANG/YENI RACHMAWATI TOHRI
ilustrasi 

Oleh: Wempy Anggal dan Sarlinda A. Kisek

Anggota Institut Sophia-Kupang
Rohaniawati, pengajar pada STAKN Kupang.

POS KUPANG.COM - Meski pemilihan Kepala Daerah (pilkada) 15 Pebruari 2017, berakhir dengan terpilihnya Wali Kota dan wakil Kota Kupang, tetapi memori kolektif sebagai refleksitivitas atas makna "blusukan" dari pasangan pemimpin terpilih (Jefri Riwu Kore-Herman Man) ke ruang kehidupan kota pra pilkada, belum pupus.

Blusukan, kata Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti (2013), "upaya melihat, mengenali, menganalisis tempat yang dihuni komunitas dengan cara yang tidak kentara atau sembunyi-sembunyi. Sebab, "blusukan" lebih berorientasi pada proses pengamatan dan penjiwaan lokasi yang dikunjungi tanpa harus diketahui orang-orang dituju".

Memasuki sebuah tempat bukanlah dimaknai secara fisik saja tetapi secara sosial. Karena itu, blusukan selalu bertemu orang, menyapa, dan memulainya dengan mengapresiasi kata dari setiap narasi, cerita, jeritan warga. Ya, pada mulanya adalah kata. Kata itu melahirkan dialog kehidupan antara pemimpin dengan rakyatnya.

Dialog sebagai perjumpaan dengan ruang dalam rangka menamai ruang. Dialog yang berangkat dari pengosongan diri (kenosis), asketis, dan "bunuh diri kelas" pemimpin agar relasinya dengan rakyat setara dan saling percaya. Rakyat yang masih berada dalam kultur bisu dan struktur ketidakadilan. Dialog merefleksikan situasi (batas) rakyatnya dan mengaktualisasikannya sebagai actus (refleksi-aksi-refleksi) dalam praksis politik emansipatoris-transformatif.

Kesadaran ruang urgen, ketika Michel Foucault mengatakan pada abad ini pola-pola produksi ruanglah yang menjadi kunci untuk memahami peradaban kita hari ini. Dari sudut ini sejarah adalah strategi-strategi penguasaan yang mengungkapkan diri secara spasial. Maka, menganalisis kekuasaan berarti mengaitkan pola-pola wacana dengan produksi dan distribusi ruang, melacak pola-pola konstruksi geografis peradaban manusia dan memahami pengalaman ruang dalam kehidupan konkret.

Gambaran di atas berimplikasi terhadap dimensi ruang perkotaan dengan permasalahan sosialnya. Karena hampir semua masalah perkotaan berdimensi ruang. Kota yang secara politis merupakan sistem jaringan kehidupan manusia dengan penduduknya yang padat, kompleks, terstratifikasi secara sosial-ekonomi, heterogenistik, materialistis, kompetitif dan konfliktual memperebutkan ruang kehidupan. Perebutan ruang kehidupan acap melahirkan konflik sosial yang darwinistik "siapa yang kuat dialah yang menang", hingga melahirkan masalah sosial seperti ketidakmerataan pelayanan publik, menguatnya sektor ekonomi informal di trotoar, segregasi pemukiman menurut etnik atau ekonomi, tempat pembuangan sampah dan kebersihan, privatisasi ruang tertentu membatasi akses masyarakat ke tempat-tempat yang indah.

Dimensi ruang mempengaruhi perilaku memilih dalam Pemilihan Umum (TPS), pembatasan penggunaan hak dan kebebasan politik untuk kumpul dan menyatakan pendapat (tempat dan gedung pertemuan), kemandegan seni dan olahraga (teater dan lapangan), disintegrasi sosial karena pembangunan rumah bercorak privatisme, konflik karena SARA (misalnya lokasi tempat ibadah), dan koordinasi dan kerjasama yang lemah antar instansi.

Tetapi masalah perkotaan lahir dari alokasi dan pembuatan ruang yang tidak adil. Ikhwalnya, distribusi ruang sebagai perwujudan kebijakan tata kota menentukan pola segregasi pemukiman, interaksi sosial di antara warga kota, pola distribusi pelayanan publik.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help