Kerukunan Beragama di Kota Kupang Sangat Baik, Pdt Mery Kolimon: Jangan Terlena dengan Pujian

Jangan terlena dengan aneka pujian sebagai kota dengan toleransi kehidupan beragama yang sangat baik. Sebab, Kota Kupang seperti api dalam sekam

Kerukunan Beragama di Kota Kupang Sangat Baik, Pdt Mery Kolimon: Jangan Terlena dengan Pujian
POS KUPANG/ENOLD AMARAYA
Pdt Dr. Mery Kolimon 

- Laporan Wartawan Pos Kupang, Benny Dasman

POS KUPANG.COM, KUPANG-Kementerian Agama Kota Kupang menggelar dialog tokoh agama di Aula FKUB NTT, Jalan El Tari Kupang, Sabtu (25/3/2017).

Dialog yang dibuka Wakil Wali Kota Kupang, dr. Herman Man, itu mengusung tema, "Dengan berdialog secara jujur, berkolaborasi dan bersinergi, kita galang kebersamaan mewujudkan Kota Kupang sebagai simbol kerukunan Indonesia."

Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, salah satu narasumber yang mengupas materi, "Ancaman Radikalisme terhadap Persatuan dan Kesatuan Bangsa," memulai narasinya dengan menyebut Kota Kupang sebagai rumah bersama yang harus dirawat menjadi kota yang bahagia.

Jangan terlena dengan aneka pujian sebagai kota dengan toleransi kehidupan beragama yang sangat baik. Sebab, Kota Kupang seperti api dalam sekam, sesewaktu bisa dirasuki perpecahan, dipicu oleh semakin mengemukanya gejala-gejala intoleran yang dapat merusak sendi-sendi kerukunan.

"Gejala intoleran tidak semata-mata karena agama, atau terjadi pengerasan identitas, tetapi juga politik. Dalam berpolitik agama sering dieksploitasi. Selan itu, api konflik itu bisa muncul kalau kita sering meromantisir keadaan global. Ini harus diwaspadai karena ancaman-ancaman ini membuat kita tidak bisa tidur," ujar Pdt. Mery.

Dalam konteks NTT dan Kupang, diakuinya, masih terjadi sentimen kolonial atau masih membawa warisan masa lalu yang terkadang bisa memicu benih-benih perpecahan.

"Kita sudah merdeka, tetapi cara berpikir atau tindakan kita kembali ke masa lalu yang statis (fundamentalisme). Ini juga bahaya," ujarnya.

Meski demikian, Pdt. Mery melihat Kota Kupang mulai tumbuh dinamis dan perlahan-lahan membangun identitas bersama, saling menerima perbedaan dan membangun subyek yang setara. *

Penulis: Benny Dasman
Editor: Benny Dasman
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help