Mengapa Anda Bisa Cinta pada Orang yang Anda Benci? Begini Penjelasannya

Zayas dan Shoda menemukan, manusia memiliki perasaan implisit atau suatu emosional yang sering tidak Anda sadari ada dalam hati Anda.

Mengapa Anda Bisa Cinta pada Orang yang Anda Benci? Begini Penjelasannya
Net
Ilustrasi 

POS KUPANG.COM -- Orang yang Anda cintai juga bisa menjadi seseorang yang membuat Anda jengkel dan kesal.

Setidaknya, demikianlah kesimpulan dari studi yang digagas oleh dua psikolog, Vivian Zayas dan Yuichi Shoda.

Keduanya mempelajari reaksi emosional sejumlah responden terhadap orang yang mereka cintai, yakni suami atau istri.

Zayas dan Shoda menemukan, manusia memiliki perasaan implisit atau suatu emosional yang sering tidak Anda sadari ada dalam hati Anda.

Penemuan itu didapatkan dari mempelajari sejumlah responden yang diminta untuk menuliskan nama pasangan dan melaporkan perasaan positif yang dirasakan mereka pada orang tersebut.

Menariknya, ketika responden diminta untuk menuliskan siapa orang yang juga sering membuat mereka merasa kesal dan jengkel, nama yang sama kembali hadir.

“Ketika otak manusia sudah diatur untuk memikirkan sesuatu yang positif, maka reaksi kita lebih cepat terhadap segala hal yang positif, tetapi menurun untuk hal-hal yang negatif. Lalu, ketika otak manusia diatur untuk memikirkan sesuatu yang negatif, reaksi serupa pun terjadi, lebih cepat bereaksi pada hal negatif dan lambat pada hal positif,” jelas Zayas.

Kondisi tersebut terjadi ketika responden bereaksi melihat nama pasangan, baik ketika berpikir positif dan negatif.

Perasaan berlebihan pada seseorang, kata Shoda, justru membuat memori Anda lebih kuat memikirkan orang tersebut, baik secara positif atau negatif.

Hal ini terjadi tak hanya pada pasangan, tetapi juga pada Mantan kekasih dan orangtua yang tidak memiliki hubungan harmonis pada anak-anak mereka.

“Sepertinya manusia menyimpan emosi baik terhadap seseorang yang sangat melekat di pikiran, meskipun Anda terkadang tidak menyukai mereka,” pungkasnya.

Hasil studi dipublikasikan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science. (Kontributor Female, Agustina/Psychology Today)

Editor: Alfred Dama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help