PosKupang/

Diskusi dan Bedah Buku: Tiga Intelektual NTT Bicara Demokrasi dan Toleransi

Institut SOPHIA dan Klub Diskusi Centra Fisip Unwira Kupang menggelar diskusi dan bedah buku karya Dr. Otto Gusti Madung, Sabtu (25/3).

Diskusi dan Bedah Buku: Tiga Intelektual NTT Bicara Demokrasi dan Toleransi
kolase
Marianus Kleden, Dominggus Elcid Li dan Otto Gusti Madung 

“Kenapa kita sangat religius di satu sisi tetapi korup di sisi lain dan sangat sedikit yang terlibat dalam advokasi sosial? Kita perlu membaca kembali cara kita beragama? Kita perlu belajar dari Eropa abad pertengahan. Apa yang terjadi di sini sudah terjadi di Eropa abad pertengahan."

"Kekristenan kita masih kental dengan ‘ideologi’ takdir. Orang menjadi miskin karena memang sudah ditakdirkan untuk miskin. Padahal, inti dari doa adalah meminta bantuan Tuhan untuk memampukan kita menemukan solusi bagi permasalahan kita, bukan meminta Tuhan untuk menyelesaikan permasalahan kita.”

Demikian pernyataan P. Dr. Otto Gusti Madung, SVD, ketika menjawab pertanyaan salah seorang peserta acara diskusi buku Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi yang digelar di aula FISIP Unika Widya Mandira Kupang, Sabtu 25 Maret 2017, sebagaimana dilaporkan Gusty Fahik dari Institut Sophia Kupang selaku penyelenggara diskusi tersebut.

Buku Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi merupakan karya Dr. Otto Gusti Madung.

Selain P. Dr. Otto, tampil pula sebagai pembedah yakni Dominggus Elcid Li, Ph.D, sosiolog dan peneliti pada IRGSC dan Drs. Marianus Kleden, M.Si, Dekan Fisip Unwira, Kupang.

Sementara bertindak sebagai moderator adalah salah seorang dosen Unwira, Mikhael Rajamuda Bataona.

Elcid Li dalam pembacaannya atas buku karya Dr. Otto ini menyoroti persoalan demokrasi yang sedang dihidupi sebagai sebuah sistem politik di Indonesia,dan di NTT pada khususnya.

“Banyak orang fanatik dengan demokrasi formal prosedural, tetapi lemah pertanggungjawaban moral. Dalam kondisi kemiskinan, ketidakadilan dan kesenjangan sosial, demokrasi prosedural tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan nyata, keterlibatan sosial, advokasi dan tanggung jawab moral,” tegas Elcid Li.

Pada bagian lain, Drs. Marianus Kleden, M.Si menyoroti model-model toleransi yang sudah dan sedang dihidupi oleh masyarakat NTT saat ini. Toleransi diperlukan untuk menciptakan sebuah model rekayasa sosial yang menjembatani “kami” dan “mereka” dalam sebuah masyarakat yang heterogen.

Namun demikian, menurut Marianus, penyadaran masyarakat perlu tetap dilakukan agar toleransi jangan dipakai untuk kepentingan ekonomi.

Dalam pernyataan terakhirnya, Dr. Otto Gusti, yang juga dosen filsafat politik di STFK Ledalero ini mengungkapkan bahwa negara yang demokratis mengandaikan warganya berpikir demokratis, oleh karena itu kerja pemberdayaan harus terus-menerus dilakukan.

Kerja pemberdayaan ini dimaksudkan untuk menjawab persoalan-persoalan ekonomi-politik dalam sebuah masyarakat misalnya pemiskinan, human trafficking, ketimpangan sosial, dan aneka persoalan lain yang tidak akan pernah hilang, bahkan dalam negara paling makmur sekalipun.

Diskusi yang berlangsung hampir dua jam ini terselenggara berkat kerja sama Institut SOPHIA dan Klub Diskusi Centra Fisip Unwira.

Beberapa mahasiswa yang hadir dalam disuksi mengaku sangat tertarik mengikuti kegiatan diskusi seperti ini sebagai wadah untuk menimba ilmu dan menambah wawasan dari tokoh-tokoh intelektual NTT yang bergiat dalam berbagai bidang pengabdian. (*)

Penulis: agustinus_sape
Editor: agustinus_sape
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help