PosKupang/

Meretas Ketamakan Seorang Pemimpin, Inilah Caranya

Akhir-akhir ini ada desas-desus masyarakat tentang pemimpin baru mereka. Sebut saja di salah satu kabupaten yang baru lahir di provinsi ini.

Meretas Ketamakan Seorang Pemimpin, Inilah Caranya
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
ilustrasi 

Oleh: Adrianus Dini
Mahasiswa STFK Ledalero Maumere

POS KUPANG.COM - Menjadi pemimpin adalah ambisi terbesar yang ada dalam diri setiap orang. Hobbes, filsuf modern kenamaan Inggris dalam bukunya, Leviathan menjelaskan manusia adalah makhluk yang senantiasa mengejar kekuasaan untuk memuaskan segala keinginan dalam dirinya. Ia menegaskan, manusia pada memiliki banyak keinginan, dan semua itu direduksi dalam satu tujuan yakni mencari kekuasaan.

Akhir-akhir ini ada desas-desus masyarakat tentang pemimpin baru mereka. Sebut saja di salah satu kabupaten yang baru lahir di provinsi ini. Masyarakat melihat ada praktik nepotisme dan tidak adanya kerja sama antara partai yang pemenang dengan "lawan politiknya". Nepotisme terlihat dalam penempatan jabatan yang seakan-akan dikuasai oleh satu "kerajaan kecil". Maksudnya posisi-posisi penting dalam pemerintahan diberikan kepada saudara dan saudari kandung, sementara yang lain yang tidak masuk dalam hitungan keluarga, tunggu dulu.Partai pemenang juga dinilai kurang bekerja sama dengan pihak lain yang dianggap sebagai lawan politik. Jika demikian, siapakah yang menjadi fokus pembangunan, masyarakat secara keseluruhan yang dipimpin ataukah sebagian kecil masyarakat yang lebih mengarah pada orang-orang saya (baca: anggota keluarga pemimpin)?

Memperoleh kekuasaan adalah salah satu godaan terbesar dalam diri manusia. Naluri yang satu ini dalam bahasanya Freud disebut id. Id adalah komponen yang telah ada dalam diri seseorang sejak lahir. Ia merupakan aspek kepribadian yang primitif. Ia didorong kesenangan dan selalu menuntut agar segala keinginannya terpenuhi sekarang dan di sini. Namun perlu disadari pula, seturut bahasa Freud dalam tipologi antropologis ada dua komponen kesadaran moral lain yang ada dalam diri setiap orang yaitu ego dan superego.

Di dalam diri setiap orang ada semacam lembaga atau hakim yang menentukan norma-norma atau larangan atau tuntutan yang harus ditaati. Perbuatan menyimpang akan menimbulkan rasa bersalah. Lembaga ini disebut superego. Yang terakhir disebut ego. Ego inilah yang mengambil sikap berdasarkan desakan id dan pertimbangan superego. Ego merupakan unsur yang menggerakkan dan menyuruh apa yang seharusnya kita buat. Artinya norma-norma, adat-istiadat, pemahaman (pengetahuan) dan nilai-nilai keagamaan yang terbentuk dalam diri seseorang (pemimpin) turut mempengaruhinya dalam bertindak.

Seorang pemimpin perlu memiliki pemahaman yang lebih bermartabat tentang kekuasaan yang ia miliki tidak hanya sekadar ambisi. Pemimpin dalam konteks negara demokratis lebih merupakan sebuah kepercayaan. Ia dipilih masyarakat yang plural dengan aneka harapan, dan yang pasti masyarakat mengharapkan pemimpin mampu membawa perubahan (lahir dan batin) serta mampu memimpin seluruh masyarakat menuju satu kehidupan yang lebih baik.

Hak memilih masyarakat sebetulnya menegaskan bahwa masyarakatlah yang berkuasa, masyarakatlah yang memimpin. Oleh karena itu, adalah tidak pada tempatnya bila seorang pemimpin berlaku "otoriter" dalam negara demokrasi. Demikian pula sikap hanya memilih orang-orang dekat (keluarga) dalam memangku posisi atau jabatan penting tertentu merupakan kebijakan yang perlu dipertanggungjawabkan dalam masyarakat demokratis. Jika tidak, akan menimbulkan pertanyaan bahkan gugatan dari masyarakat umumnya.

Negara demokratis tidak menempatkan masyarakatnya sebagai penonton yang pasif, tetapi membuka peluang bagi masyarakatnya untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan politik. Misalnya, masyarakat yang ahli dalam bidang tertentu perlu dipercayakan untuk turut mengambil bagian dalam sistem pemerintahan tanpa melakukan pembedaan. Mereka perlu diminta kontribusi untuk bersama membangun daerah sehingga tidak menimbulkan kesan monopoli, di mana yang menempati posisi khusus hanyalah orang-orang yang masuk dalam hitungan kerabat (keluarga) si pemimpin. Adalah sangat baik bila hal tersebut diperhatikan sebab dengan demikian masyarakat akan semakin peduli dan memiliki semangat cinta tanah air.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa karakter seorang pemimpin turut dipengaruhi oleh norma, nilai, pemahaman, adat-istiadat dan nilai keagamaan yang dianut, maka tak berlebihan bila seorang pemimpin perlu menyadari diri sebagai alat Tuhan. Menjadi alat Tuhan berarti siap berkomunikasi secara vertikal dan horisontal.

Berbicara secara vertikal mengisyaratkan kesiapan diri untuk memeluk kebenaran yang secara ontologis benar adanya bukan sebuah kebenaran yang dirasionalisasikan untuk mengejar satu dan dua harapan tertentu. Pemimpin yang "berdusta" demi kenyamanan diri tanpa memperhatikan kesusahan masyarakat yang ia pimpin adalah pemimpin yang melupakan nilai vertikal dan patut dipertanyakan pemahamannya tentang jabatan pemimpin yang ia emban.Demikian juga tentang aspek horisontal, seorang pemimpin bukanlah superman yang bekerja sendirian, ia membutuhkan sesama (dalam hal bekerja sama) demi terciptanya kehidupan yang didamba masyarakat. Ia perlu memiliki kecakapan untuk menciptakan tim yang solid dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat.

Tulisan sederhana ini lebih merupakan refeleksi atas suara masyarakat yang belum sempat disuarakan. Tentang ketidaknyamanan masyarakat berkenaan dengan realitas yang sementara mereka geluti di provinsi ini, serentak mengajak mereka yang merasa diri sebagai pemimpin untuk sejenak berpikir dan merasa ke manakah orientasi dan fokus kepemimpinan yang sedang dipercayakan kepada mereka sekarang. Yang terpenting adalah menjadi pemimpin bukanlah soal ambisi untuk mengejar kekuasaan ataupun menciptakan kerajaan kecil bagi diri dan keluarga.

Menjadi pemimpin bukan soal memenuhi hasrat yang bergelora dalam diri. Lebih dari itu, menjadi pemimpin berarti bertanggungjawab secara vertikal dan horisontal atas kepercayaan yang telah diberikan masyarakat. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help