Krisis Minyak Tanah Di Mbay Berlanjut, Harga Eceran Rp 10.000,00/ Liter

Krisis minyak tanah di Mbay berlanjut. Akibat krisis tersebut harga minyak tanah di ibukota Kabupaten Nagekeo itu melonjak hingga Rp 10.000,00 per lit

Krisis Minyak Tanah Di Mbay Berlanjut, Harga Eceran Rp 10.000,00/ Liter
ILUSTRASI
Minyak tanah

Laporan Wartawan Pos Kupang, Adiana Ahmad

POS KUPANG.COM, MBAY -- Krisis minyak tanah di Mbay berlanjut. Akibat krisis tersebut harga minyak tanah di ibukota Kabupaten Nagekeo itu melonjak hingga Rp 10.000,00 per liter.

Krisis minyak tanah di Mbay berlangsung sejak September 2016 lalu. Krisis itu berlanjut hingga saat ini.

Kepala Depot Pertamina Ende, Selamat Mingko yang dihubungi via telepon selulernya, Jumat (17/3/2017), mengatakan, Pertamina tidak pernah mengurangi kuota minyak tanah yang dikirim dari Kupang untuk Kabupaten Nagekeo.

Kepala Bagian Ekonomi Setda Nagekeo, Stefanus Wangge yang ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/3/2017), menjelaskan, krisis minyak tanah di Mbay akibat kesalahan perhitungan kuota Kabupaten Nagekeo tahun 2017 dari agen ke Pertamina.

Pria yang biasa disapa Asis tersebut mengungkapkan, sampai saat ini penetapan kuota minyak tanah dari pertamina untuk setiap kabupaten belum ada. Karena itu, kata Asis menggunakan kuota tahun sebelumnya.

"Tetapi data yang dikirim agen ke Pertamina hanya 150 KL (150.000 liter) dari kuota 163 KL (163.000 liter). Kita sedang berupaya membangun komunikasi dengan Depot Pertamina di Maumere karena Depot Pertamina sudah pindah di Maumere. Kita upayakan sebelum ada penetapan kuota dari Pertamina," kata Asis.

Asis menjelaskan, dengan terbataanya suplay minyak tanah dari Pertamina le Mbay, pihaknya terpaksa menata ulang tata niaga minyak tanah di daerah itu.

Tidak hanya premium dan solar untuk nelayan yang harus menggunakan rekomendasi, Pemda Nagekeo pun mewajibkan pengecer dan pangkalan minyak untuk mengantongi rekomendasi Bagian Ekonomi Setda Nagekeo meskipun pengecer dan pangkalan telah berizin usaha penjualan minyak tanah. Alasannya, untuk memudahkan pengawasan.

Beberapa warga Mbay yang ditemui ketika mengantre minyak tanah di salah satu pangkalan, Jumat (17/3/2017), mengaku kecewa dengan lambannya sikap pemerintahan Elias-Paul yang dinilai lamban mengatasi krisis minyal tanah di daerah.

"Sudah sekian lama minyak tanah susah. Pemerintah dimana? Minyak tanah sudah jadi barang langka. Kita harus kejar-kejaran dengan mobil tangki minyak tanah dan sikut menyikut dalam antrean agar bisa dapat minyak tanah murah. Kalau tidak dapat terpaksa beli yang harga Rp 10.000,00," kata Sarifah, salah satu konsumen asal Maropokot ketika mengantre minyak tanah di salah satu pengecer di Alorongga Jumat siang.*

Penulis: Adiana Ahma
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help